Homepage--homesick-home

Baru saja membaca beberapa tulisan yang bagus di substack. Tiba-tiba saja, sesuatu dalam diri saya terpanggil. sesuatu yang rasanya sudah lama sekali tertidur. mengingatkan saya mengapa dulu saya memilih jalan yang saya pilih. Mengingatkan saya mengapa saya jatuh cinta pada dunia baca dan tulis. 
mengingatkan betapa tulisan dan pikiran yang dalam dan tajam, tulisan yang sunyi namun lantang, tenang dan tegas menjadi rumah bagi pikiran dan hati saya. Alhamdulillah. Allah  mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan  tersebut. 

Saya homesick! benar-benar homesick. Kilasan perasaan itu datang. saya pernah merasa bersemangat sebelumnya. betapa menyenangkannya. dan tulisan-tulisan yang saya baca di substack itu membuat saya mengingatnya. merindukannya. 

setelah sekian lama tenggelam dalam riuh dan gaduhnya sosial media, saya seperti menemukan satu sudut senyap untuk beristirahat. Oh, pengendalian diri. Ini sangat konyol. Dulu, ketika masih masa BBM dan ponsel internet dengan kemampuan yang  tidak secanggih sekarang, saya tidak tertarik sama sekali. ponsel berinternet yang saya gunakan ketika itu adalah lungsuran dari kakak. ketika hendak mengganti dengan yang baru, saya malah memilih keystone yang minim fitur. ketika sadar bahwa saya baru saja mengganti ponsel, kawan saya bertanya kenapa memilih hp jadul ini. saya jawab, saya tak tertarik menggunakan ponsel 'canggih' saat itu. sebab saya tahu bagaimana diri saya  dan merasa bahwa hal tersebut dapat mengganggu saja. saya katakan pada kawan sekelas itu bahwa saya tak ingin larut bermain game atau berinternet ria. si kawan hanya menatap heran pada saya. mungkin pilihan saya sangat konyol. Saat itu, saya tidak bergabung pada grup mana pun, tidak saling bertukar pesan ria, tidak mendapatkan informasi tambahan kecuali informasi primer yang dibutuhkan melalui fitur pesan singkat yang merupakan kanal informasi utama saat ngampus dulu. Menurut hemat saya, saya hanya membutuhkan informasi yang penting saja. mungkin sedikit terdengar bodoh, ingorant bahkan arogan. tetapi saat itu pikiran saya lebih jelas dan jauh dari bising-bisaing seperti saat ini. Saya dapat memilih secara sadar hidup saya dan mengenal diri serta mengetahui apa yang saya inginkan dalam hidup. saya juga tahu dengan pasti apa yang saya sukai dan tidak. saya tahu apa yang ingin saya konsumsi atau tidak. 

setelah fitur  ponsel pintar berkembang  amat pesat dan dapat menunjang untuk berbagai pekerjaan, pemilihan menggunakan alat ini menjadi lebih masuk akal. Namun, naasnya perangkap firtur hiburan terlihat lebih menggoda. Ya, ini hanyalah tentang kebijaksaan memilih dan menggunakan. dari kecanggihan dunia modren ini, kita bisa meraih manfaat yang banyak dalam waktu singkat. Namun, ternyata hal ini memberikan efek terburu-buru dalam kehidupan. Atau kewalahan banjir informasi yang tak dibutuhkan, bahkan juga  terpenrangkap dalam muslihat-muslihat yang tak kita sadari mengintai di susdut-sudut yang terlihat aman. 

saat ini begitu layar digelar dan digulir, kita langsung disodorkan informasi yang belum tentu kita butuhkan atau inginkan. Namun, dengan kemasan dan hook yang begitu menarik, tanpa sadar kita bertahan di sana. menyerap informasi tersebut. lalu berpindah pada informsi lainya dalam hitungan menit bahkan detik. Otak kita tak diberi waktu untuk memproses dan mengirim signal pada diri kita apakah hal ini benar kita perlukan atau tiak. Nanmun, informasi itu kadung terekam dalam pita otak, menjadi bising dan suara-suara yang menyelubungi pikiran kita (setidaknya sejauh informasi itu bertahan dalam ingatan)  yang tak jarang kita adopsi.

keberlimpahan stok informasi dengan kemudahan akses dapat menjadi bumerang yang menenggelamkan kita dalam lautan  'sampah' informasi. mempercayai bising yang sebenarnya bukan suara hati atau pikiran kita. tidak memproses dan mengendapkan masukan yang baru saja dilahap. 
lalu, kita tersesat, bingung, dan kehilangan diri sendiri. kita berinteraksi dengan banyak hal tetapi tak pernah benar-benar terhubung. mengenal banyak hal  dan orang namun tak pernah benar-benar mengenali diri sendiri. mengetahui banyak hal tetapi tidak memahami lebih dalam. kemudahan akses  dalam waktu singat ini lagi-lagi membuat kita hidup terengah-engah. selalu merasa tertinggal. selalu ingin lekas dalam segala hal. selalu terburu-buru hingga kewalahan. kita menciptakan kegelisahan dan kecemasan yang mungkin seharusnya tak ada dalam hidup kita. ini miris dan konyol di saat yang sama. 

tentu saja di masa  ini  bagi sebagian besar kita internet menjadi tak terhindarkan. tetapi terus-terus bersamanya membuat kita cenderung lupa dengan diri dan hidup kita sesungguhnya. ya, tidak serta merta demikian tetapi sangat rentan adanya. \

oh, homesick! dan beberapa scroll dapat saja menghancurkan perasaan ini. 

09.10
Sabtu, 21 Februari 2026

Komentar

Postingan Populer