5 Poin Penting Atomic Habits, Perubahan dengan Hasil yang Luar Biasa
Identitas
Buku
Judul :
Atomic Habits
Penulis :
James Clear
Penerjemah : Alex Tri Kantjono Widodo
Penerbit :
Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit : November 2021
Cetakan :
Cetakan keduapuluh
ISBN :
978-602-06-3317-6
ISBN Digital : 978-602-06-3318-3
Peresensi : Siti Nur Aisyah
James Clear, seorang
pakar kebiasaan, merilis buku yang berjudul Atomic Habits. Atomic Habits
menjadi perbincangan banyak kalangan. Buku ini telah direkomendasikan oleh
banyak orang untuk dibaca. Disebut sebagai manual untuk mengubah kebiasaan, Atomic Habits memberikan
sumbangsihnya dalam membantu individu untuk berubah menjadi lebih baik. Terjemahan
bahasa Indonesia buku ini pertama kali diterbitkan oleh Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama pada September 2019.
Buku dengan predikat New York Times Bestseller ini mengusung
slogan perubahan kecil yang memberikan hasil luar biasa. Atomic Habits
menguraikan proses dan cara mudah yang
dapat diikuti dalam membangun kebiasaan baik dan menghilangkan kebiasaan buruk untuk
berubah menjadi lebih baik. Meskipun sudah banyak ulasan yang dirilis
terkait buku ini, izinkan saya membagikan
pendapat tentang lima poin penting dalam buku Atomic Habits yang tidak boleh
dilewatkan untuk mewujudkan perubahan dengan hasil memuaskan. Tanpa
berlama-lama mari kita bahas lima Poin penting tersebut.
1.
Teori
satu persen (1%)
Manusia cenderung tidak
sabar dan menginginkan suatu perubahan
besar yang berdampak nyata. Kita cenderung meremehkan langkah-langkah kecil
hanya karena tidak dapat melihat hasilnya atau dampaknya. Padahal, langkah
kecil dapat memegang peran penting yang tak terduga. Seperti kata pepatah,
sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. James Clear mengungkapkan bahwa hasil yang luar biasa
dapat diperoleh melalui hal-hal kecil yang jika ditumpuk akan membawa pada
suatu perubahan besar. Ia percaya bahwa suatu pencapaian besar tidak mutlak
datang dalam bentuk skala besar pada suatu waktu. Dengan menjadi 1% lebih baik
saja setiap hari, maka, tanpa kita sadari, peningkatan satu persen tersebut
akan membawa dampak perubahan yang tidak disangka di kemudian hari.
Dalam bukunya James
Clear juga memaparkan perhitungan matematis tentang bagaimana angka 1% memengaruhi
hasil yang didapat oleh manusia dalam jangka waktu setahun. Ia menuliskan,”Jika Anda bisa menjadi 1 % lebih
baik setiap hari dalam setahun, akhirnya Anda akan 37 kali lebih baik pada
penghujung tahun.” (untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada buku hal. 19). Ini
juga memperkuat pendapatnya bahwa setiap pencapaian besar dapat diraih dengan
peningkatan kecil yang berkesinambungan. Peningkatan kecil yang berkesinambungan
memerlukan konsistensi (apa pun bentuk usaha dan atau jenis peningkatannya).
2.
Mengadopsi
Identitas
”Saya bodoh dalam
berhitung,”
”Saya susah untuk
berhenti merokok,”
”Saya bukan morning person,”
Apakah Anda sering
mendengar kata-kata demikian? Ataukah Anda sendirilah yang mengatakannya? Apa
yang Anda rasakan saat Anda mendengar atau mengatakan hal tersebut? Apakah
muncul stigma negatif dalam diri Anda? Tanpa kita sadari ucapan yang kita
lontarkan menyublim menjadi hal yang kita percayai. Sedikit demi sedikit
kepercayaan itu terus berkembang, tumbuh subur dan mengakar kuat dalam diri
hingga membentuk identitas diri. Melabeli diri dengan mengucapkan atau
menanamkan keyakinan buruk tentang kemampuan atau identitas diri menjadi
penghalang terbesar dalam upaya untuk berubah
menjadi lebih baik.
Identitas mengambil
peran besar dalam membentuk perilaku atau tindakan manusia. Tanpa sadar,
identitas memengaruhi alam bawah sadar manusia dalam mengambil suatu keputusan
atau tindakan. Identitas itu sendiri dapat memudahkan atau membatasi seseorang
dalam hidupnya. Contohnya, seorang pelajar akan memiliki kebiasaan yang
mencirikan identitasnya sebagai pelajar. Sebagian besar waktunya dihabiskan
untuk belajar dibandingkan hal lain (sekurang-kurangnya lima jam dalam sehari
ia habiskan untuk belajar). Begitu pula dengan seorang pegawai, ia akan
memiliki kebiasaan tertentu yang mencirikan identitasnya, membedakannya dari
profesi atau kelompok lainnya. Seorang public
figure misalnya, sebagai orang yang dipandang dalam masyarakat, maka sudah
sewajarnya ia menjaga citra diri. Identitasnya sebagai public figure membatasi dirinya untuk melakukan hal yang dapat merusak citranya. Hal-hal tersebut
membuktikan peran penting identitas dalam membentuk perilaku manusia. Identitas
membentuk perilaku. Di sisi lain, perilaku yang dijadikan kebiasaan akan
membentuk suatu identitas, seperti dua sisi koin yang tidak dapat dipisahkan.
Jika Anda ingin
berubah, maka penting bagi Anda untuk memiliki kebiasaan tertentu yang akan
membawa Anda pada perubahan. Namun, bukankah sulit menanamkan kebiasaan baru?
Anda bisa meringankannya dengan mengadopsi identitas diri yang Anda tuju atau
inginkan. Dalam kasus ini, James Clear memberikan contoh. Ada dua orang yang
sedang berusaha berhenti merokok. Kita sebut saja A dan B. Suatu hari, saat
mereka ditawari merekok, A menolak, mengatakan
tidak dengan alasan ia sedang berusaha berhenti. Sedangkan B, menolak dengan
mengatakan ia bukan perokok. Apakah perbedaan dari dua jawabn tersebut? Secara
tidak langsung, jawaban A menyiratkan ia masih percaya bahwa ia adalah seorang
perokok. Tanpa disadari, hal ini memberikan efek negatif. Menegaskan bahwa ia
sedang berusaha atau sedang berjuang untuk hal yang tidak menyenangkan. Ia
dalam pengharapan agar dapt meninggalkan rokok. Di sisi lain, B mengisyaratkan
bahwa merokok adalah masa lalunya. B telah menanamkan identitas baru dalam
dirinya. Ia bukan perokok. Identitas ini menanamkan kepercayaan yang membantunya dalam meninggalkan kebiasaan
merokok. Mulailah dengan mengadopsi identitas hingga identitas tersebut
benar-benar menjadi jati diri Anda.
3.
Aturan dua menit
Melakukan sesuatu yang
baru memanglah tidak mudah. Apalagi jika hal baru itu sangat asing bagi kita.
Contohnya saja, seorang couch potato (idiom yang merujuk pada seseorang yang
banyak menghabiskan waktu bermalas-malasan di sofa sambil mengonsumsi makanan
tidak sehat dan menonton tv) ingin menerapkan pola hidup sehat dengan rajin
berolahraga akan kesulitan untuk memulai olahraga jika ia langsung melakukan
olahraga berat. Kemungkinan besar ia akan jera untuk kembali berolahraga besok.
Bagaimana caranya agar ia dapat mulai kebiasaan barunya (berolahraga) secara
rutin tanpa merasa terbebani? James memberikan
solusi aturan dua menit. Maksud dari dua menit ini adalah, melakukan sesuatu
selama dua menit. Tidak peduli apa pun kegiatannya, lakukan selama dua menit
lalu tinggalkan. Esoknya kembali lakukan dua menit, lagi dan lagi hingga mulai
terbiasa. Seiring berjalannya waktu tambah durasi pekerjaan hingga mencapai
waktu yang diperlukan. Hal ini untuk mempermudah membangun sebuah kebiasaan
baru tanpa merasa terbebani. Teori ini juga bisa diterapkan dalam memulai
kebiasaan membaca buku. Untuk langkah awal, bacalah buku selama dua menit, lalu
tinggalkan. Jangan membaca lebih dari itu hingga (jika dua menit terasa berat)
hingga nanti terbiasa, tambahkan durasi membaca.
Inti dari teori dua
menit ini adalah menjadikan suatu pekerjaan menjadi lebih mudah (dapat berupa
durasi yang sebentar atau skala [tingkat kemudahan] suatu kegiatan) untuk
dilakukan tanpa ada rasa terbebani. Biarpun terkesan sepele tetapi sangat
dibutuhkan sebagai langkah awal memulai sebuah kebiasaan. Durasi dua menit
dapat disesuaikan dengan masing-masing individu dan kegiatan. Dapat lebih lama
atau lebih sebentar. Ingat, apabila terasa sangat mudah, tambahkan durasi atau
tingkat kesulitan perlahan-lahan.
4.
Empat Kaidah
Salah satu cara yang
dapat dilakukan untuk mempermudah kita dalam membentuk suatu kebiasaan adalah
dengan menciptakan sistem dan lingkungan
yang sesuai. Membangun sistem ini dapat dilakukan dengan meciptakan lingkungan
yang lebih ramah bagi kebiasaan baru yang ingin dibentuk. Baik itu secara fisik
maupun mental. James Clear mengemukakan
empat kaidah sederhana dalam membangun suatu kebiasaan baik dan menghilangkan
kebiasaan buruk. Empat kaidah membangun kebiasaan baik itu adalah: menjadikannya
terlihat, menjadikannya menarik, menjadikannya mudah, dan menjadikannya
menyenangkan.
Apakah maksud dari
kaidah-kaidah tersebut? Untuk memahami
kaidah pertama, coba Anda bayangkan situasi berikut. Anda ingin memulai
kebiasaan baru membaca buku setiap hari menjelang tidur. Situasi pertama, Anda
meletakkan buku di rak buku di ruang baca. Situasi kedua, Anda meletakkan buku
di meja, di samping tempat tidur Anda. Situasi manakah yang lebih memungkinkan
dalam memulai kebiasaan membaca buku menjelang tidur? Situasi dua. Karena buku
berada dalam jangkauan dan terlihat. Membuat suatu tugas atau target kebiasaan
terlihat dapat membantu meningkatkan kemungkinan terlaksananya tugas tersebut. Hal
ini bisa disiasati dengan menyandingkan kebiasaan yang sudah kita lakukan
dengan kebiasaan baru yang ingin kita bentuk. Tujuannya adalah agar kebiasaan
baru ini dapat menjadi terlihat atau kita sadari. Gunakan rumus : Setelah [kebiasaan lama], aku akan
[kebiasaan baru]. Contohnya : Setelah mencuci piring, aku akan membersihkan
dapur.
Kaidah
kedua, menjadikannya menarik. Ada banyak tantangan dalam
memulai kebiasaan baik yang baru. Setelah menjadikan kebiasaan yang ingin
dibentuk terlihat, maka langkah berikutnya adalah menjadikannya menarik.
Siasati dengan menyandingkan kebiasaan
sekarang dengan kebiasaan yang kita
perlukan (baru) atau kebiasaan baru yang ingin dibangun (aku
perlukan) dengan kebiasaan atau
kegiatan yang kita inginkan (sukai). Sebagai contoh: Setelah menulis satu bab (diperlukan), aku akan memakan es krim
(diinginkan), Saat menonton tv (kebiasaan), aku akan melipat pakaian
(diperlukan).
Kaidah
ketiga, menjadikannya mudah. Untuk membangun suatu
kebiasaan, lakukanlah perlahan tapi pasti. Bagilah suatu kegiatan skala besar
menjadi skala yang lebih kecil, perlahan-lahan tambahlah tingkat kerumitan atau
durasinya. Ini seperti menerapkan aturan dua menit. James Clear memberikan
contoh sebagai berikut:
|
Sangat
Mudah |
Mudah |
Cukup
Mudah |
Sulit |
Sangat
Sulit |
|
Mengenakan
sepatu lari |
Berjalan
sepuluh menit |
Berjalan
sepuluh ribu langkah |
Berlari
lima kilo meter |
Ikut
lomba maraton |
|
Menulis
satu kalimat |
Menulis
satu paragraf |
Menulis
seribu kata |
Menulis
artikel sepanjang lima ribu kata |
Menulis
buku |
|
Membuka
catatan |
Belajar
selama sepuluh menit |
Belajar
selama tiga jam |
Meraih
nilai A penuh |
Meraih
gelar Ph.D |
James menekankan yang paling penting
adalah langkah awal mulai membangun suatu kebiasaan. Lebih baik melakukan hal
yang kecil secara berkesinambungan hingga ia menjadi sebuah kebiasaan (besar
atau berdampak) daripada ingin melakukan hal besar tapi tidak pernah dimulai.
Kaidah keempat, menjadikannya memuaskan. Manusia akan cenderung mengulangi suatu kegiatan yang memberikan rasa puas pada dirinya. Dengan kata lain kegiatan yang memberikan hasil yang memuaskan (ganjaran kegiatan tampak atau nyata) memiliki potensi untuk diulangi hingga menjadi suatu kebiasaan. Bagaimana jika suatu kegiatan yang ingin kita jadikan kebiasaan merupakan suatu kegiatan jangka panjang? Bagaimana jika kegiatan tersebut tidak memiliki ganjaran langsung atau hasilnya tidak langsung terlihat? Siasati dengan trik menjadikan ganjaran itu terlihat sebagai ganjaran langsung. Ini seperti memproyeksikan proses ganjaran. Misalnya, Anda ingin membangun kebiasaan berolahraga untuk mendapatkan tubuh ideal. Hasil dari olahraga tidak dapat langsung terlihat. Untuk tetap menjaga motivasi, berikan ganjaran langsung bagi diri Anda (yang tidak bertentangan dengan kebiasaan yang Anda ingin bangun, jangan memakan es krim atau junk food setelah berolahraga yang akan merusak tujuan olahraga itu). Contohnya, setelah berolahraga Anda akan menonton acara favorit Anda di televisi. Anda juga dapat memberikan tanda silang di kalender pada hari Anda berolahraga. Hal ini menjadi proyeksi ganjaran sehingga seolah terlihat (mendapatkan ganjaran langsung) dan memberikan kepuasan, juga bermanfaat sebagai pemantau kebiasaan.
Lalu, bagaimana dengan
menghilangkan kebiasaan buruk? Lakukanlah kebalikan dari empat kaidah pembangun
kebiasaan baik. Jadikan kebiasaan itu tidak terlihat (seperti menaruh game
controller di tempat yang tidak terlihat), jadikan kebiasaan itu tidak menarik
(berikan ganjaran berupa hukuman setiap melakukan kebiasaan buruk), jadikan
kebiasaan itu sulit (seperti tidak menyetok mi instan di rumah, sehingga ketika
ingin makan mi instan harus membelinya dulu), dan jadikan ia mengecewakan
dengan menambahkan atau meningkatkan
hambatan dalam melakukannya.
5.
Goldilock
Dalam aturan Goldilock
dikatakan bahwa manusia mengalami motivasi puncak saat mengerjakan tugas yang
tepat berada di batas kemampuan mereka saat itu. Dengan kata lain, kita akan cenderung meninggalkan suatu hal atau
kegiatan yang terlalu sulit atau terlalu mudah (sehingga dapat memberikan rasa
bosan). Untuk itu, sangat penting bagi kita menjaga keseimbangan dalam
membangun kebiasaan baru. Rasa bosan
adalah tantangan tersendiri dalam upaya membangun suatu kebiasaan. Clear
mengatakan bahwa ancaman terbesar dari kesuksesan bukanlah kegagalan, melainkan
kebosanan. Jangan pernah mengalah dengan rasa bosan yang datang. Tetap jaga
motivasi. James Clear juga mengatakan bahwa profesional bertahan pada jadwal
yang sudah dibuat; amatir mencari alasan untuk melewatkannya.
Tentu saja buku Atomic
Habits mengandung jauh lebih banyak dari sebagian kecil yang sudah dijabarkan
di atas. Dalam buku ini, James Clear memaparkan penjelasan detail yang terbagi
dalam bab dan sub-bab. James Clear membuat bukunya mudah dipahami dengan bahasa
yang ringan dan susunan pokok pembahasan buku yang sistematis. Ia juga
menambahkan contoh kasus nyata dalam penjabaran teorinya. Dilengkapi dengan
grafik dalam penjelasan teori (yang
dibutuhkan) dan rangkuman di
setiap akhir pembahasan menjadi poin tambah sendiri dari buku ini. Rangkuman
dan grafik membantu pembaca mengingat dan
memahami isi buku dengan lebih mudah. Di akhir buku, James menambahkan
saran tindak lanjut setelah membaca buku Atomic Habits. Juga dilengkapi dengan
informasi laman internet Atomic Habits oleh James Clear yang dapat dikunjungi
pembaca. Akhir kata, buku ini benar-benar sebuah panduan praktis menuju
perubahan.

Komentar
Posting Komentar