Minggu, 26 April 2026

What Does Baking Taught Me

Ramadhan kemarin belajar baking di rumah dengan adik. Coba buat sugar palm cheese cookies dan kue kering sumprit. Pertama kali benar-benar pay attention di permasalahan baking. Dulu, biasanya hanya akan melakukan apapun yang diminta tanpa benar-benar memperhatikan. Bisa dikatakan baking dan memasak bukanlah passion saya. Bagi saya, makanan adalah makanan. makan hanya sekadar makan. Untuk bertahan hidup. Mungkin cita rasa atau selera saya adalah yang terburuk yang pernah ada. Sebab, tak mengerti sama sekali rasa dari makanan. Saya hanya akan melahap makanan selagi ia masih edible dan halal tentunya. 

Pada saat itu, saya benar-benar kehilangan semangat atas hal-hal dan Ramadhan selalu saja membawa suatu kebaikan yang tak bisa saya jelaskan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan berkah Ramadhan. Jadi, saat adik saya mengatakan hendak membuat kue, tiba-tiba saja saya minta diajari dari awal. And she was very welcome about it. Lucky me, to have her, right? Alhamdulillah. 

Anyway. Selama belajar baking dengan paying attention, ada beberapa hal yang akhirnya saya sadari:

1. Proses membuat makanan itu, akan sangat menyenangkan jika kita mengerti apa yang sedang kita kerjakan, nggak cuma tunggu intruksi. Meskipun sekadar jadi asisten koki, kalau kita pay attention, semua hal akan menjadi menarik. Dan saya yakin ini tak hanya berlaku untuk baking, tapi untuk setiap hal. Uou start to pay attention when you're interested or YOU CAN PAY ATTENION to MAKE THINGS INTERESTING. 

2. Pertama kali coba menakar, mengadon, mencetak sampai memanggang dalam oven sendiri dengan paying attention, membuat saya mengerti mengapa orang-orang yang suka masak mencintai memasak dan masakan mereka. The feelings grow within the care. Perasaan itu dapat tumbuh dengan perhatian. Dan untuk membuatnya tetap ada, perlu dirawat. Hadir di setiap prosesnya dengan tulus. 

3.  You have to make sure, just in case something is going wrong. Jadi, kalau mengikuti intruksi, suhu dan durasi api yang digunakan oleh panduan ternyata nggak cocok di oven rumah atau mungkin adonan dan cetakannya yang kurang sesuai. Percobaan pertama rada gosong. it's a little bit too brown than it supposed to be. 

4. Sabar dan persisten. Well, nggak perlu penjelasan lebih lanjut.

5. Do it with love. Selama ini saya memasak hanya teknikal. Itu juga tekniknya nggak bagus. Jadi, ya ... begitulah. Kakak saya bilang, kekurangan dari masakan saya itu kurang cinta. Mungkin itu benar, karena jujur memasak hingga saat itu bukanlah hal yang saya nikmati, saya melakukannya karena itu salah satu cara bertahan hidup dan kita memerlukannya. Sejak belajar baking dan ngelihat hasil cetakannya yang lumayan dari hasil itu dan bocil-bocil bilang enak (entah iya atau enggak), itu menghasilkan perasaan yang berbeda. Senang? entahlah.

Jadi, belakangan, sesuatu berubah. Tiba-tiba saja, suatu hari saya makan dan hampir menangis karena rasanya. Entah karena memang enak atau karena ada sesuatu yang salah dengan diri saya waktu itu. Saya bahkan tidak ingat makanan apa yang membuat saya hampir menangis saat itu. Lalu, ada juga saat-saat di mana saya sangat kagum dengan rasa masakan yang biasanya saya tak begitu notice. Ada kalanya saya mulai membandingkan rasa masakan,  dan juga sedikit keecewa dengan rasa yang menurut saya terlalu asin (tetap dihabiskan, kok). Perubahan-perubahan ini membuat saya sedikit terkejut. Anehnya, saya sebelumnya tak pernah terlalu memusingkan soal rasa makanan. Maksudnya, selagi masih edible saya makan. Tidak terlalu picky kecuali untuk beberapa hal yang memang tidak bisa saya konsumsi (urgensi), bukan sekadar tidak suka. Saya makan tanpa protes ataupun (belakangan baru sadar juga tanpa menikmatinya), sebab bergitulah cara saya menghargai dan bersyukur atasnya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa menikmati rasa makanan juga bentuk syukur atas nikmat dan karunia dari Tuhan. Serta bentuk penghargaan kepada orang yang telah membuat dan menyajikannya. Kini sudut pandang mekanikal saya dalam perkara makanan dan memasak diketuk palu kecil kue sumprit dan sugar palm cheese cookies yang hanya sebesar kue cubit. But I still want to able appreciate food no matter what and how it taste. Only add that it's good if you can differentiate the taste and enjoy it. 


Minggu, 26 April 2026

09 : 15 WIB

Kamis, 23 April 2026

Racauan (Lagi)

Sudah membuka laman ini sejak keamrin malam, akan tetapi belum tahu juga apa yang mesti dituliskan. Sudah sangat lama sejak menulis rutin itu, sejak tak melakukannya lagi, rasanya mulai kehilangan sesuatu. Di suatu hari, seorang teman pernah bilang, kemampuan itu kalau tak diasah nanti jadi tumpul. katanya, kalau kita menyia-nyiakan bakat yang diberikan Tuhan, nanti akan diambil dari kita. Sebuah insight yang sangat bagus. Sayangnya, saya tak punya bakat, tapi bisa jadi kebiasaan, skill (meski tak begitu bagus), niat, dan bahkan semua hal juga demikian. Jika tak dirawat, tak dijaga, bisa saja kita kehilangannya. Sebab, kita tak lagi pantas memilikinya. Dengan kata lain, Tuhan ambil sebab kita menyia-nyiakannya. Entah di mana si kawan itu sekarang. 

Ada banyak yang ingin dituliskan, tetapi di saat yang sama seperti tak ada hal yang bisa dituliskan. Mungkin karena bahkan dalam kesendirian paling gelap pun terkadang manusia takut akan kejujuran. Takut melihat bayangan dirinya yang penuh borok dan tak sebagus apa yang ia tunjukkan dan perdengarkan. 

Belakangan, saya sangat insecure. Betapa banyaknya wanita yang berdaya dan kuat, merantau sendirian, menghasilkan uang dan membiayai hidupnya sendiri, berani melakukan hal apapun, memiliki skill, cerdas,berkarakter elok, berpendidikan tinggi, punya mimpi dan mewujudkannya, tegar, intinya dapat hidup sendirian. Sesuatu yang saya tak pernah alami atau miliki dalam diri saya. Belum lagi di dunai seperti ini, saya merasa tidak memiliki tempat. semua orang menginginkan orang-orang, wanita yang dapat melakukan apapun sendirian. baik sebagai kenalan, teman, rekan kerja, pegawai, mentor, pasangan. Saya hampir tak dapat melakukan hal apa pun. Ketika merenung sendirian dan mendapati tak ada hal yang dapat saya kerjakan dengan baik, jujur saya sedikit merasa sedih. Meskipun kemampuan dapat di asah, namun, hati saya terlalu lembek untuk berjuang. sangat memalukan. satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan baik adalah menjadi pecundang. Atau begitulah yang saya pikirkan selama ini. 

Namun, saya melupakan satu hal. Memang benar, sejak dulu saya tak memiliki hal baik atau istimewa dalam diri saya. Tetapi, saya selalu melakukan hal yang saya bisa. meskipun itu sangat kecil dan tak berarti bagi orang lain, setidaknya dulu  saya tak pernah membandingkan diri dengan siapa pun dan hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan. Saya meninggalkan bagian diri itu, seorang yang tidak pernah membandingkan diri secara personal dengan orang lain hanya untuk merasa lebih buruk. saya tekankan secara personal, sebab, tentu saja hidup perlu perbandingan di beberapa sisi namun tidak di bagian lainnya. Skill dan kualitas, perlu dibandingkan bukan secara personal, tetapi secara objektif agar dapat lebih baik lagi. Sementara pribadi atau personal tidak perlu dibandingkan sebab setiap individu berbeda. 

Hal ini yang  belakangan sering saya lupakan. Hal yang dahulu seperti bernapas bagi saja. Hal yang tanpa saya sadari, membantu saya untuk terus berjalan dalam hidup, atas izin Allah. semuanya atas Izin Allah. Dan ... Alhamdulillah sekarang saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali menyadarinya. Saya ingin merawatnya agar menjadi orang yang tetap layak untuk dititipi mindset ini. Semoga saja. 

Ah, racauan tak berstruktur lagi. Apa boleh buat. Sampai jumpa!


Sabtu, 11 April 2026

Poem: Dua Malam

Oleh: S. N. Aisyah 

Tiap kali kutatap langit 
Dedaunan seperti mendayu
Ditiup angin yang syahdu
Riuh di kejuahan memudar
Mewujud senyap
Ketenangan yang tak dapat
Kubeli di langit-langit mana saja

Lama sudah aku berbaring
Di puing-puing bawah tanah
Kamar pengap tempat mimpi
Jadi bangkai dan belulang
Berulang, 
Menyebar momok dan aroma busuk 
Mengaduk perut, memuakkan 

Mungkin saja kematian-kematian
Harapan hanyalah pelipur lara
Yang kerap diputar ulang pada gawai;
Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
Siap menebas dan membakar 
belukar dan rambat "si dingin" 
Memecah cermin jadi beribu ingin

Telah lama aku berbaring 
Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
Menyiram tahi dengan air seni. 
"Kerja tak guna," begitulah kata guruku. 
Kesia-siaan telah susupi materi putih. 
Otakku jadi kotak-kotak
Serupa permainan balok di 
taman kanak-kanak;
Selalu saja kehilangan tabung
Memicu tangis yang dibendung

Kata Ibuku ...
Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
menjelma gaduh saja
Buah dari kesopanan anak durhaka

Lagi-lagi aku bertanya,
Jika saja kutengadahkan kepala,
Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
berkawankan angkasa,
Menyapa bintang,
Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
Dan setangkai
mawar putih di atas peti? 


Kota Bertuah, 10 April 2026





















Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...