Bagaimana dengan Janji?
Identitas Buku:
Judul :
Janji
Penulis :
Tere Liye
Penerbit :
Sabak Grip Nusantara
Tahun terbit : Juli 2021
Cetakan :
Cetakan pertama
ISBN :
978-623-97262-0-1
Halaman :
488 Halaman
Janji adalah novel ke-48 yang ditulis oleh Tere Liye. Dibawakan melalui ‘lensa’ perjalanan tiga orang remaja, Hasan, Baso, dan Kaharuddin. Tiga remaja usil yang selalu berulah di sekolah agamnya dengan harapan agar mereka dikeluarkan dari sekolah. Suatu ketika, saat rombongan tamu kehormatan datang berkunjung ke sekolah mereka, alih-alih bersikap baik, ketiga remaja ini melancarkan aksi yang membuat mereka harus menghadap pimpinan sekolah, Buya. Mengetahui motif keusilan ketiga remaja itu, Buya memberikan suatu hukuman yang menggiurkan. Yaitu sebuah tugas akhir. Apabila mereka dapat menyelesaikan tugas tersebut, maka mereka akan dinyatakan lulus dari sekolah yang selama ini ingin mereka jauhi. Tugas tersebut ialah mencari seseorang yang bernama Bahar.
Dengan perbekalan yang diberikan serta beberapa petunjuk dan rekomendasi orang-orang yang dapat mereka mintai tolong, riang hati Hasan, Baso, dan Kaharuddin melangkahkan kaki keluar dari sekolah asrama tersebut. Mereka pergi sebagai remaja yang tidak terima atas nasib dan ingin segera keluar dari sekolah agama yang selama ini mereka tempati, meskipun ini adalah tahun terakhir mereka di sana. Petualangan mencari orang penting itu, membawa mereka pada tempat-tempat yang berbeda. Membawa mereka pada petualangan dan kisah-kisah masa lalu yang tidak mereka duga. Bahkan, tak disangka-sangka, perjalanan itu juga menguak kenyataan diri mereka sendiri. Seolah perjalanan tersebut menjadi cerminan diri dan perlahan-lahan menawarkan pelajaran hidup.
Perjalanan
ketiga sekawan ini dilatari dengan
tempat-tempat yang amat beragam. Di beberapa babak, saya dapat merasakan keindahan
latar yang menyatu dengan jalinan cerita. Tak hanya latar tempat yang beragam, alur cerita campuran ini juga
membawa kita menembus pada masa lalu, menelusuri kehidupan Bahar. Satu-dua bagian dari kisah ini
mengharukan. Bisa dikatakan buku ini mampu membuat saya menangis dengan kesederhanaan dan nilai-nilai yang
ditawarkannya.
Tere liye tak hanya memberikan cerita,
tapi juga seolah memberikan teladan bagi kita melalui kisah yang ditulisnya.
Banyak hal yang disampaikan melalui karakter-karakter tokoh ini. Terutama tokoh
Bahar. Keteguhan
hati Bahar perlu diteladani oleh setiap orang. Melalui perjalanan tiga sekawan
menyusuri jejak Bahar, kita seolah diajak menjadi musafir (Yah, meskipun kita
sesungguhnya adalah musafir,
izinkan saya tetap menggunakan kata ini). Kisah ini benar-benar
melukiskan perjalanan hidup sekaligus memberikan nasihat tentang hal baik apa yang mungkin dapat kita lakukan dalam
hidup.
Semua
kisah dan pembelajaran hidup ini dikemas dengan bahasa yang sederhana tapi
ampuh untuk langsung membawa kita pada pemahaman nilai-nilai yang diusung serta memberikan empati pada
tokoh. Bahkan mungkin,
juga dapat membuat kita menitikkan air mata. Tere Liye seolah merangkai album potrait kehidupan dalam sebuah novel.
Konflik-konflik yang disuguhkan terasa sangat dekat dengan kehidupan, terutama kehidupan Indonesia di tahun-tahun yang dekat dengan rilisnya novel ini. Seolah Sang Penulis sedang berdiskusi melalui bukunya tentang nilai-nilai
dan cara menghadapi kehidupan. Salah dua isu menarik yang diangkat dalam novel
ini ialah kehidupan bertetangga dan isu prasangka. Tere
Liye juga memberi solusi sederhana yang dapat saja ampuh mengatasinya.
Tere Liye sangat pandai merangkai
jalinan potongan ceritanya. Memberikan
kesan tarik-ulur terhadap
konflik dalam setiap
kisah, menawarkan jeda pada pembaca untuk tenggelam dalam rasa penasaran sekaligus
mencerna jalinan kisah dan
berusaha untuk menerka muara kisah ini. Memberikan ilusi seakan kita benar-benar bersama tiga sekawan dalam perjalanan
menemukan Bahar. Hal ini-lah yang membuat membaca bukunya
jadi menyenangkan.
Oh, satu lagi! Buku ini memberikan perspektif yang unik dalam meramu tema janji.

Komentar
Posting Komentar