Fiksi Mini: L’Amour

Oleh: S. N. Aisyah


”Katakanlah sesuatu,” ucapnya lirih. Di bawah lampu neon, wajah itu terlihat indah, walau mata beningnya menyala dalam amarah. Namun, tak ada kata yang dapat kuberikan padanya.

”Baiklah. Aku takkan mengganggumu lagi." Ia kembali bersuara setelah lama kami duduk dalam hening.

Ucapannya menaruh sayatan yang tak pernah kuduga. Bukankah ini seharusnya mudah?


Ia balik badan. Menuju pintu yang terbuka. Hujan turun perlahan. Diam-diam menelan kehangatan yang pernah menyelimuti.

”Tunggu! Milikmu.” Kuserahkan lukisan itu padanya. “Potret Annabel Lee”, sebuah parafrasa dari puisi kesukaannya.

”Kausimpan saja atau buanglah,” ucapnya dingin. Masih dapat kulihat punggungnya di ambang pintu. Sedikit bergetar,  kemudian berlalu. Meninggalkanku. Menerobos rinai yang kian deras. 

Aku tahu, seberapa besar pun pengharapanku padanya, tak akan mengubah kenyataan ini. 

Tak bisa kukatakan kata ‘terkutuk’ itu. Tidak padanya, tidak pada siapa pun. Tidak pada diriku sendiri. 

Tak dapat kuucapkan kata yang tak pernah kumengerti. Bahkan mungkin, tak pernah kumiliki. 

Jadi, kubiarkan ia berjalan dalam malam, kuyup oleh hujan. Melepasnya pergi menuju pagi. Walau setiap langkahnya menggurat sesuatu dalam dadaku. Sesuatu yang kutahu kini sudah menjadi miliknya. Akan tetap jadi miliknya. 

"Va. Moi, je n’ai jamais fermé la porte." 





Komentar

Postingan Populer