Sebuah Esai dari Masa Silam


Kebuntuan menulis untuk pekan ini, membawa saya kembali pada folder lama. Saya membaca tulisan yang kira-kira berusia tiga tahun lalu ini.  Tulisan yang lahir dari renungan hasil webinar bertemakan mental health bagi wanita yang dipadu dengan hasil bacaan buku. Setelah membacanya kembali, saya terkejut atas kewarasan saya saat itu. Juga sangat takzim betapa buruk saya menuliskannya. Maka, dengan mengedit semampunya, tulisan ini  saya bagikan. Masih belum bagus, tetapi percayalah, ini sudah diedit. 😅

Berikut hasil akhir tulisan ini setelah direvisi teknis penulisannya dengan mempertahankan isi seutuhnya. 


Menjadi Wanita Bahagia dengan Mencintai Kegagalan

Oleh: S. N. Aisyah

Kebahagiaan merupakan perihal mendasar yang didamba manusia. Tak sedikit yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya. Setiap individu memiliki definisi bahagianya sendiri. Beberapa orang mendefinisikan bahagia dalam bentuk uang dan wujud materi lainnya, sebagian lain mendefinisikan bahagia sebagai keindahan/kecantikan atau ketampanan, ada pula yang  berpendapat bahwa kebahagiaan  diperoleh  dengan status,  jabatan dan/atau kekuasaan. Bagi beberapa orang, bahagia itu kebebasan. Kelompok lainnya mengatakan bahwa bahagia adalah pencapaian dalam hidup, kesuksesan. 

Begitu banyak definisi bahagia. Lalu apakah sebenarnya bahagia itu? Menurut KBBI, bahagia adalah keadaan atau perasaan senang dan tentram. Banyak dari kita yang hanya memaknai sebagian saja dari kata bahagia. Kita hanya mengasosiasikan bahagia dengan kata senang dan kerap kali meninggalkan kata tentram di belakang pungung. Maka, tak jarang saat berusaha mencapai kebahagiaan,  kita terjebak  dalam kesenangan semata dan tidak menemukan rasa tentram di dalamnya. 

Ketika hal itu terjadi, saat  rasa senang hinggap dalam kehidupan, kita mengira kita sudah bahagia. Padahal tidak demikian. Pelabelan kebahagiaan hanya pada kesenangan semata acapkali membuat kita serakah. Akibatnya, saat  tak dapat memenuhi kesenangan itu, kita merasa gagal dan kecewa.

Bentuk kegagalan yang menimbulkan rasa tak bahagia sangat beragam. Tak mesti dalam lingkup profesional, rasa gagal dan putus asa dapat saja menyerbu dari berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Baik itu dalam urusan karir, hubungan sosial, urusan rumah tangga, bahkan koneksi dengan diri sendiri.

Hidup di era digital, memberikan tantangan tersendiri bagi wanita. Kemudahan dan kebebasan untuk mengakses informasi menjadi pisau bermata dua. Berbeda dengan masa silam--saat meniti karir bagi wanita  belumlah  menjadi hal yang lumrah, wanita "kini" berpengaruh besar hampir di setiap lini kehidupan. Ia dapat menjelma seorang anak, seorang pelajar, seorang istri, wanita karir, publik figur, perwakilan rakyat, ibu rumah tangga, relawan, dan figur-figur lainnya. Wanita dapat menjadi siapa dan apa saja dalam hidupnya. 

Akan tetapi, setiap hal memiliki dua sisi. Baik dan buruk. Keleluasaan hidup wanita membawa tanggung jawab serta tuntutan yang setimpal pula. Bagaimanakah wanita dapat bahagia dengan semua tanggung jawab dan tuntutan terhadap dirinya? Bagaimanakah kebahagiaan wanita saat tuntutan itu tidak dapat ia penuhi?

Kerap wanita membandingkan diri dengan orang lain. Apalagi di era serba digital ini. Bermain media sosial terkadang memberikan ilusi rumput tetangga lebih hijau. Kehidupan orang lain lebih beruntung, kepribadiannya lebih baik, penampilannya lebih menarik. Sehingga menumbuhkan insecurity dalam diri. Ketika merasa insecure, sering kali wanita  berpikir bahwa ia tidak cukup dan tidak memiliki  kualitas diri yang membanggakan. Merasa tak berdaya untuk mengubah keadaan. Hidupnya kurang berarti. Tak dapat mencapai kesempurnaan hidup. Semua itu membuatnya merasa gagal bahkan depresi.

Dalam penelitiannya, Homewood Health United Kingdom mengemukakan bahwa  47% wanita rentan mengalami gangguan mental lebih tinggi dibandingkan lelaki  dengan persentase 36%. Data ini juga diperkuat dengan penelitian di Duke University yang memberikan peringatan bahwa mahasiswa perempuan  tingkat awal memiliki kecemasan dan depresi untuk menjadi sempurna tanpa upaya (effortless perfection). 

Dalam penelitian tersebut, para mahasiswa itu percaya bahwa mereka harus menunjukkan kecantikan yang sempurna, sisi feminim yang sempurna, dan keserjanaan yang sempurna tanpa adanya upaya untuk memerolehnya. Perasaan ingin mencapai kesempurnaan dan kesuksesan itu, tak jarang membuat kita kewalahan dan melupakan bahwa tidak semua pencapaian itu harus berwujud kesempurnaan. 

Sejatinya dalam pasang-surut kehidupan, kegagalan kerap menghampiri kita. Apakah saat terbentur batu sandungan itu membuat kita jatuh terpuruk dan tidak lagi dapat merasakan kebahagiaan? Tentu saja tidak demikian. Carol S. Dweck dalam bukunya -- Mindset, mengatakan bahwa, ”... jika Anda tidak memiliki anugerah – belum tentu Anda menjadi orang gagal....” Dengan demikian, apabila sesuatu yang buruk terjadi, bukan berarti kita gagal dan menjadi tidak bahagia karenanya.

Lalu bagaimanakah sikap yang harus kita ambil saat kegagalan menghampiri?

Memahami Subjektivitas Standar Masyarakat

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bagaimana cara kita mendefinisikan gagal itu. Apakah yang disebut dengan kegagalan? Apakah tidak memenuhi standar sosial (yang cenderung tidak masuk akal) juga disebut kegagalan? Apakah tidak mencapai kesuksesan tertentu adalah sebuah kegagalan? Apa pun itu, kita harus paham bahwa setiap manusia itu berbeda. 

Bakat (jika ingin kita sebut demikian) bawaan setiap orang berbeda, begitu pula dengan  latar belakang  serta lingkungan bertumbuhnya. Tidak hanya itu, perjalanan hidup yang ditempuh setiap manusia itu unik. Tak mungkin dua orang atau lebih berada di posisi yang sama persis dalam satu kurun waktu. Maka, membandingkan hidup seseorang dengan individu lain dalam menilai kadar sukses atau gagal merupakan keputusan yang tidak bijaksana. 

Begitu pula dengan upaya memenuhi standar yang ditetapkan oleh masyarakat. Nyatanya, standar sosial yang muncul kepermukaan sangat subjektif. Dapat dibuktikan dari kedinamisan dan inkonsistensi standar itu sendiri. Menggantungkan value diri kita pada sesuatu yang bersifat temporal dan subjektif akan membawa  pada arus ketidakstabilan. Hal ini dapat membingunkan dan membuat kewalahan. Terutama apabila standar itu tidak terpenuhi. Bahkan sampai berdampak buruk bagi kesehatan mental atau kebahagiaan hidup.

Dalam salah satu bab di buku Blink*, Malcolm Gladwell memaparkan kisah-kisah yang berujung pada satu kesimpulan, bahwa riset pasar tidak selalu mencerminkan keinginan. Berikut sebagian kisah nyata tersebut dituliskan. 

Salah satu kasus yang dipaparkan adalah perjalanan sebuah perusahaan minuman bersoda (selanjutnya kita sebut A--saya tak ingin mempromosikan merek dagang kedua perusahaan yang akan kita bahas ini) yang sempat mengalami penurunan penjualan bersamaan dengan peningkatan pesaingnya, kita sebut saja B. Kedua merek dagang ini sempat berperang dalam memasarkan produk mereka. Bahkan B mengadakan sebuah iklan yang berisi  tantangan yang diberi nama B Challenge. 

Peserta B Challenge mengikuti tes buta. Mereka diminta untuk meminum dua produk yaitu B dari Perusahaan B dan A's dari perusahaan A. Mereka tidak mengetahui gelas mana yang berisi B atau A's. Survei singkat B Challenge menunjukkan bahwa 57%  juru cicip tersebut lebih menyukai B dibanding 43%  yang menyukai A. 

Seperti yang diungkapkan oleh Gladwell, perbandingan 57% berbanding 43%  adalah angka yang keterlaluan di dunia yang jutaan dolar bergantung  pada selisih hanya sepersepuluh persen. Tambahkan juga fakta bahwa sebelumnya A-lah yang memimpin pasar minuman  ringan. Kabar ini menjadi mimpi buruk bagi manajemen A. 

Dipercayai memiliki resep rahasia yang tidak pernah diubah selama bertahun-tahun, setelah kalah dalam B Challenge, A melahirkan New A, produk baru yang diharapkan dapat mengembalikan posisi A seperti semula. Banyak hal yang terjadi dalam rentang waktu dua tahun pergulatan A-B. A tidak pernah menyangka bahwa New A memancing kemarahan penggemar A. Mereka meminta agar resep asli A's tetap dipertahankan. 

New A adalah contoh bagaimana A Company mengajari kita betapa rumitnya pola pikir dan keinginan orang banyak. A kemudian bertahan dengan rasa asli A's yang kalah dalam B Challenge. Dalam riset pasar,  laju B diramalkan tidak akan terbendung. Akan tetapi hal itu  tidak pernah terjadi. Meskipun A's kalah dalam uji  rasa dari B, namun, A's tetap menempati posisi pertama minuman ringan di dunia.

Kisah A dapat menjadi pelajaran bahwa tidak setiap yang ditampilkan dalam riset pasar (untuk kali ini kita menyebutnya sebagai populer) mengungkapkan bentuk kerumitan pola pikir manusia. Kita tidak perlu kesana-kemari memenuhi tuntutan pasar (atau standar populer) hanya untuk menjadi sukses, menjaga jarak dari kegagalan. Tidak perlu menanggalkan nilai original untuk bisa diterima oleh suatu kelompok atau standar tertentu. 

Apakah hal ini berarti kita menutup diri dari kemungkinan dan kesempatan lainnya? Tidak. Tentu saja tidak begitu. New A menjadi contoh bagi kita untuk belajar menilai sendiri apakah yang terbaik bagi kita. New A adalah cara atau tindakan yang diambil oleh A Company untuk belajar dan melihat insight baru dalam upaya menemukan jalan terbaik bagi dirinya. Perjalanan A's mengalami pasang-surut, tetapi apakah saat A berada di posisi bawah ia dapat langsung kita labeli gagal? Pada Akhirnya A's tetap menjadi juara. Apakah semata-mata sukses adalah menjadi juara? Untuk menjawabnya kita akan membahas poin kedua.

Memahami Mindset Diri

Untuk mengatasi kegagalan kita haruslah memiliki Mindset yang kuat. Mindset seperti apakah yang kita perlukan? Dalam buku Mindset, Carol S. Dweck menyebutkan ada dua jenis mindset. Pertama adalah mindset tetap (fixed mindset) dan yang kedua mindest berkembang (growth mindset). 

Mindset tetap adalah pola pikir yang menilai kesuksesan atau pencapaian sebagai kualitas diri tanpa mengikutsertakan perjuangan, kesalahan, dan ketekunan. Tentu saja mindset seperti ini akan sangat rentan dengan insecurity dan penilaian subjektif terhadap diri secara ekstrim. 

Hal ini dapat berdampak negatif terhadap ketentraman jiwa dan produktivitas seseorang. Mindset tetap memiliki kecenderungan untuk melabeli diri berdasarkan hasil pencapaian (baik yang berwujud atau tidak) semata tanpa memandang proses di dalamnya. Pola tersebut sangat rapuh. 

Sebagai contoh, orang yang memiliki nilai rendah dalam matematika dan bermindset tetap akan menegecap dirinya sebagai orang yang tidak pandai matematika. Jika sudah demikian, ketertarikannya terhadap matematika akan berkurang dan ia tidak memiliki motivasi untuk kembali belajar dan menaklukkannya. Ia menanggap ia telah gagal dan ia tidak berbakat. Perasaan itu dapat memunculkan emosi negatif yang akan berdampak buruk bagi kualitas hidupnya. Kemungkinan terburuknya, ia menjadi tidak bahagia.  

Lalu bagaimana dengan Mindset berkembang? Mindset berkembang adalah pola pikir yang memercayai bahwa kualitas manusia, semisal keterampilan intelektual, dapat dikembangkan melalui upaya tertentu. Orang dengan mindset berkembang, ketika mengalami kegagalan, mereka memandangnya sebagai suatu proses belajar. Menurut Carol, mereka bahkan tidak menanggap diri mereka tengah gagal. Mindset berkembang adalah semangat untuk mengembangkan diri dan tetap berproses sekalipun ketika hal tersebut tidak berajalan dengan baik.

Membentuk Identitas

Setelah mengetahui dua macam Mindset, hal selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah membangun mindset berkembang dalam diri kita. James Clear mengatakan bahwa identitas dan kebiasaan saling membentuk satu sama lain. 

Dengan kata lain, jika kita menginginkan kebiasaan tertentu maka kita perlu memiliki identitas tertentu. Juga sebaliknya, sebab memiliki kebiasaan tertentu, kita sedang berproses membangun identitas tertentu. Apa hubungannya dengan kegagalan? Identitas atau jati diri kita dapat berperan penting bagi kita dalam mengatasi kegagalan. Identitas atau nilai yang kita percayai terhadap diri kita akan mempengaruhi cara kita memecahkan suatu persoalan

Dalam Atomic Habits, James Clear mengilustrasikan bagaimana perbedaan identitas memengaruhi upaya dua orang untuk berhenti merokok. Kita sebut saja dua kedua orang ini Si C dan Si D. Ketika mereka  ditawari rokok, Si  C menolak dengan alasan bahwa ia sedang berhenti merokok sedangkan Si D menolak dengan alasan ia bukan perokok. 

Ilustrasi tersebut merupakan contoh membangun identitas. C, masih berpikir bahwa ia perokok, ia tengah berusaha untuk berhenti. C masih melekatkan identitasnya sebagai perokok dalam dirinya. Hal ini dapat saja menjadi salah satu beban baginya untuk mengatasi masalah rokok. Di sisi lain, D sudah menanankam identitas dalam diri bahwa ia bukan perokok. Tentu saja hal ini dapat membantunya menjalani proses berhenti merokok dengan lebih mudah sebab ia tidak lagi mengasosiasikan diri sebagai perokok. 

Kekuatan pikiran berperan penting dalam kehidupan manusia. Carol Dweck mengungkapkan bahwa ”... pandangan yang Anda adopsi untuk diri Anda sangat memengaruhi cara Anda mengarahkan kehidupan.” Dapat kita katakan bahwa identitas atau ideologi yang kita anut memegang peranan penting dalam kehidupan kita.  

Identitas diri diperlukan untuk menghadapi kegagalan. Kita dapat mengeset pikiran kita ketika kita menghadapi kegagalan. Kita dapat mengadopsi mindset berkembang dan menjadikannya bagian identitas diri kita. Dengan demikian kita akan menghargai proses dari sebuah kegagalan tanpa harus merasa tertekan untuk menjadi sukses dan sempurna. Dengan menanamkan mindset berkembang, kita akan menyadari bahwa bagian terbaik dari kegagalan adalah fakta bahwa manusia dapat belajar darinya. Cara merangkul kegagalan  adalah mencintai kenyataan bahwa manusia belajar darinya.

Di era digital  ini, melalui gadget, kita dapat mengakses banyak hal dengan mudah. Tidak hanya informasi, kita juga dapat melihat perkembangan atau pencapaian orang lain. Namun, sayangnya,  terkadang kita menjadikan panggung layar kaca sebagai standar hidup yang harus dipenuhi. Hal ini berbahaya, sebab dapat menjadikan kita berorientasi pada hasil serta wujud-wujud materil semata,  mengabaikan proses di dalamnya. 

Tak sedikit dari kita yang memandang tren sosial menjadi  suatu kewajiban. Kesempurnaan yang ditampilkan dari layar kaca kerap menjadi acuan. Kita melupakan kemungkinan adanya simpangan vektor dalam kesempurnaan yang disuguhkan di balik layar kaca. Mencari kebahagiaan adalah hal yang sulit akan tetapi bukan berarti mustahil. Kebahagiaan itu dapat kita ciptakan dalam mindset atau pola pikir kita.

Komentar

Postingan Populer