Fiksi Mini: Tetangga

Oleh: S. N. Aisyah


Sudah dua malam ini, aku menginap di rumah kakak. Menemaninya dan kepokanakn kecilku yang manis sebab suami kakak dalam perjalanan kerja ke ibukota provinsi. Dua malam di sini, tidak begitu buruk. Meski terletak di sudut pedesaan dengan jarak antar rumah yang relatif jauh, ketenangan dan keheningannya memberikan sedikit hiburan pada sarafku yang kenyang menelan bising kota. 


Kakak tinggal di ruko sederhana yang kembar dua di tepi jalan utama desa--meski tak terlihat seperti jalan utama. Bisa dikatakan, penghuni ruko sebelah adalah tetangga terdekat. Rumah tetangga lain berjarak minimal puluhan meter jauhnya. Oleh sebab itu, kehengingan menjadi tak terelakkan. 

Bahkan di siang seperti ini pun. Dari dalam kamar, aku mendengar suara keran westafel yang terbuka. Sepertinya, Kakak baru saja pulang mengajar dan mencuci piring. Aku segera keluar, hendak menyambut kakak, meninggalkan keponakanku yang tengah tidur siang. Kosong. Tak ada siapapun di dapur. Akan tetapi, suara itu masih ada. Ya, dari ruko sebelah. Sepertinya tetangga yang sedang mencuci piring. Tahun lalu, aku juga dapat mendengar  kegiatan dapur tetangga saat berkunjung ke sini. 

Malam hari, seperti biasa, aku tak bisa tidur. Kembali kudengar suara keran yang terbuka dan dentingan piring. Sepertinya tetangga kakak sedang cuci piring lagi. Aku tetap menonton tv tanpa suara, menunggu kantuk menyergap mata. Akan tetapi, terdengar sepasang suara yang tengah beradu argumen. Ah, tetangga kakak. Kuharap mereka baik-baik saja. Aku tidur diantarkan oleh letih dan gelisah.

Pagi hari, kekhawatiran itu tetap bersarang di dadaku. Apalagi sudah dua hari aku tak melihat tetangga kakak. Maka kuutarakan hal ini pada kakak.

"Kak, kok Kak Mela nggak kelihatan, sih, dua hari ini?" tanyaku penuh antisipasi.

"Kak Mela udah pindah," Kakak yang tengah merapikan bawaannya berkata sambil lalu. Mengabaikan wajah heranku

"Terus yang tinggal di sebelah siapa?" tanyaku lagi. Pantas saja aku tak melihat Kak Mela dua hari ini. Biasanya sore hari Kak Mela dan Kakak sering mengobrol.

"Itu Kak Sari, yang punya kafe sebelah." Kini ia tengah merias wajah. Tahun lalu, penghuni sebelah membuka warung kelontong.

"Jadi, sebelah kafe, kak? Kok nggak buka?" Aku menjadi sedikit khawatir, mengenang pertengkaran yang kudengar malam tadi.

"Oh, mereka mudik. Makanya Abang suruh kamu temani kami di sini," jawab Kakak seraya merapikan riasan wajahnya, hendak berangkat mengajar.

"Apa udah balik ke sini, ya, Kak? Soalnya aku dengar ada suara orang berantem tadi malam," terkaku. Bisa saja, 'kan mereka memutuskan kembali lebih awal. Setelah mencium pipi keponakanku yang masih tertidur pulas, Kakak segera mengeluarkan motor sedang aku mengekorinya.

"Ah, ngaco kamu. Ini Kak Sari barusan kasih kabar. Baru mau jalan pagi ini. Udah, Kakak berangkat dulu, ya. Hampir telat ini. Jangan lupa kunci pintu!"  Kakak berlalu dengan motor bebeknya. Mengabaikanku dan kebingunganku. Meski begitu kupastikan untuk menjalani amanat mengunci pintu, Begitu pintu tertutup,  lagi-lagi kudengar suara keran air yang terbuka. Namun, kali ini diiringi tawa lengking yang membahana. 



Komentar

Postingan Populer