Poem: Nyanyian Alpa
Oleh: S. N. Aisyah
Ibu menyulam lagu kebangsaan pada borci
Saban senin, dilantunkan satu stanza
Indonesia Raya dalam suka-duka
Akankah cinta nan ruai
Mampu menopang tanah pusaka?
Ikrar telah digaungkan:
Di sanalah Aku Berdiri, Jadi Pandu Ibuku,
Benarkah demikian?
sedang kitab pandu semakin usang
Berdebu dan bermiang
rantai tak lagi menambatkan kapal
Ia mengungkung kaki-kaki dan tangan-tangan kurus, busung kering, dan kacung-kacung bersaku robek
Yang kerap mengantri di kantor-kantor
Dengan alas kaki lusuh,
Berharap segera diurus
Kemarin, pohon beringin dikencingi pangeran-pangeran dan abdi buncit
Yang menyaru, berseru-seru
"Bersatu! Bersatu!"
Sedang kian lama, meja jamuan
Kian digeser ke tungku
Jadi kayu bakar, menjelma abu
Banteng-Banteng mengamuk
Seruduk ladang, perkampungan, sungai, lautan, gunung,
sekolah, pasar, dapur, puskesmas
Juga buku undang-undang
Padi dan kapas
Sudah ranggas
Kemarau berkepanjangan
Hutan-hutan mulai gundul
Terserang kanker pembanguna mangkrak
Atau amplop-amplop yang tak dapat dielak
80 tahun Indonesia merdeka,
lara Ibu abid,
putra-putri belajar durhaka
Masih sucikah ia,
Saat meja hijau hanya sekadar
tempat bertandang dan berdagang?
Putra-putri adu galah, menjengkal ibu--
tinggalkannya, dirundung susah-payah
Air mata Ibu tumpah
Dalam diam
Ia bermunajat
bisikkan stanza dua dan tiga
Yang kerap terlupa
Di bawah naung bintang
Suara ibu menggema
Bergetar tercekat serak,
berurai airmata, ibu
Menyanyi syahdu:
Suburlah Tanahnya, Suburlah Jiwanya, Bangsanya, Rakyatnya, Semuanya.
Sadarlah Hatinya, Sadarlah Budinya, Untuk Indonesia Raya.
S’lamatlah Rakyatnya, Slamatlah Putranya, Pulaunya, Lautnya, Semuanya.
Majulah Negrinya, Majulah Pandunya, Untuk Indonesia Raya,
17 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar