Fiksi Mini: Kadar

Oleh: S. N. Aisyah


Berkali-kali kukatakan padanya untuk berhenti. Aku sudah muak. Orang waras mana pun tak akan tahan dengan kelakuannya. Setiap hari ia mengekoriku. Bersusah payah aku memintanya pergi, hanya dibalas seringai.


Beberapa kali pula kuminta Ibu menyuruhnya pergi. Akan tetapi, Ibu malah memelukku dan berkata ini semua hanya sementara. Kata Ibu, nanti dia juga bosan padaku. Aku ingin sekali mempercayai Ibuku. Namun, makin lama ia makin menjadi-jadi saja.

Kemarin sore, ia bergelantungan di pundakku seharian. Rasanya berat sekali untuk bergerak. Aku sangat lelah sementara orang-orang selalu saja bising dan berkata ini-itu tentangku. Mengobrol dan mengobrol. Seolah tak ingin meninggalkanku sendiri. Apa mereka lupa? Sudah sejak lama aku tak pernah benar-benar sendirian. Ada dia bersamaku. 

"Nak?" Ibu menyibak gorden pintu. "Sedang apa engkau?"
Memaksanya pergi, Bu. Berulang kali aku membatin.
Lagi-lagi, Ibu melotot seperti itu. Tubuhnya bergetar hebat. Aku dapat melihat air matanya yang menyeruak.

Ibu mendekatiku. Memegang lembut kedua tanganku yang mencengkram kepala.
Darah mengalir di ujung jemariku. Tengkorakku kembali menganga.Sedang Ibu memeluk jasadku yang kaku. 


Komentar

Postingan Populer