Fiksi Mini: Sepuluh kali

Oleh: S. N. Aisyah

Kami tinggal di pondokan dengan tiga kamar. Dua kamar tidur dan satu ruang tamu. Di bagian belakang, Bapak membangun dapur dan tempat MCK.Tak banyak benda di rumah kami. Hanya barang-barang  pokok. Satu dipan dan satu lemari untuk tiap kamar tidur. Sebuah meja kecil di ruang tamu. Selebihnya hanya perkakas kerja dan peralatan rumah tangga. Tidak ada televisi maupun perangkat elektronik lainnya yang bersifat hiburan saja. Bapak membangun sebuah saung kecil di halaman depan rumah, tempat Ibu berjualan kecil-kecilan sedangkan Bapak setiap hari akan pergi meladang. Apabila  senggang, aku dan kakak biasanya  menggantikan Ibu berjualan sementara Ibu membantu Bapak di ladang. 



Di suatu siang, di tanggal merah, aku dan Kakak asyik mengobrol saat tiba-tiba saja, seorang nenek singgah di warung kami. Wajah keriputnya dibanjiri peluh. Napasnya agak terengah. Bakul yang dibawanya, diturunkan sebentar.

"Beli telur bebek, Nak?" tanya Nenek pada kami. Mulutnya amat kering. 
"Maaf, Nek, belum dulu," jawab Kakak dengan tak enak hati. Saat ini kami tak pegang uang kecuali dua lembar uang dua ribuan. Ya, saat ini, kami hanya punya empat ribu rupiah. Wajah nenek tampak sedikit kecewa. Ia tak membujuk lagi, agaknya paham jika kami pun tak bisa membantu. Sedikit mengobrol, kami baru tahu bahwa nenek ini akan melanjutkan jalan kaki sekitar dua kilo lagi menuju rumah sekalian hendak menjual telur-telur bebek hasil ternak milik anaknya. Nenek tampak bergegas, namun, kakak segera menyerahkan dua kemasan gelas air mineral. Menawarkan nenek untuk minum dulu. Nenek tersenyum, berkata ia memang sedikit haus. Dengan tangan yang agak gemetar, Nenek mengambil satu minuman saja. Meminumnya sedikit, dan berkata bahwa ia harus melanjutkan perjalanan. Setelah berterima kasih, nenek berlalu dengan segelas mineral itu. Aku dan kakak terdiam sebentar. Menatap iba pada Nenek. 

Sore harinya, Bapak meminta aku dan kakak untuk beli beras di kedai kelontong Bu Mar. Sekalian mengambil beberapa bahan yang minggu lalu sudah ibu pesan di sana. 
"55, ya, Bu?" tanya Kakak sambil menyerahkan uang.
"50 aja, Dek," jawab Bu Mar. 
"Lho, bukannya 55 totalnya, Bu?" tanya kakak kembali. Memastikan hitungan sudah benar. Sebab berselisih paham dengan Bu Mar adalah hal yang paling dihindari warga sekitar.
"Iya, enggak apa-apa. 5 ribunya diskon." Bu Mar berkata sambil tersenyum. "Udah, nggak apa-apa," lanjut Bu Mar meyakinkan kami. Aku dan kakak saling pandang sejenak. Apa yang mengubah hati Bu Mar yang sangat perhitungan itu? Namun, akhirnya kakak tetap mengambil kembali lembaran lima ribu yang diserahkan padanya. 

Setelah berterima kasih  kami berjalan pulang mengangkut belanjaan dalam diam. Entah mengapa aku terkenang nenek dan segelas minuman mineral seharga 500 rupiah. Mungkinkah ini kebetulan saja? 


Komentar

Postingan Populer