Thought: Percobaan Kecil
Sekarang saya sangat mengerti ide-ide orang yang mengungkapkan jika saja ada alat yang dapat langung menangkap, menerjemahkan, dan mengeksekusi langsung pikiran kita. Itu pasti sangat memudahkan. Yah, mungkin ini hanyalah pemikiran dari rasa malas sesaat dan tidak ingin atau tidak memiliki ketahanan dan kesabaran untuk mewujudkan pikirannya itu dalam dunia nyata. Saya tidak katakan bahwa semua yang berpikiran demikian adalah pemalas. Akan tetapi saya mengerti asal muasal keinginan itu --sepertinya.
Mungkin sebab pikiran itu jalannya sangat kilat. maksud saya, jika tak segera ditangkap, kita bisa kehilangannya. Dan, bahkan, saat kita genggam pun pikiran itu dapat berubah wujudnya. Ini sangat mengerikan.. Tak jarang saat saya menulis, itu menjadi tak sama persis seperti saat ia terlintas atau hidup di dalam kepala. Apa yang menyebabkannya demikian? Interaksi antar memori? kewarasan? kemawasan? Nilai-nilai? perasaan? Apakah kontaknya dengan semua hal itu yang akahirnya mempengaruhi pikiran itu? Tetapi mungkin beanr, sangat diperlukan kesabaran dan ketenangan untuk memproses dan mngertinya. Di satu sisi, bayangan bahwa kita akan kehilangannya adalah suatu hal yang menakutkan dan amat disayangkan. Bukankah begitu? Lihatlah kepala saya sangat tak karuan. Ini semua saya ketik saja begitu terlintas di kepala. saking takutnya ia menguap enttah ke mana. Ini bagian eksperimeen yang buruk dan berisiko. Tetapi entahlah,. Namanya juga pikiran dari makhluk yang amat dinamis. Abstraksi dari pemikiran ini sendiri, apakah itu yang menjadikan manusia, manusia? Maksud saya, bagaimanakah kita mengidentifikasi diri kita? apakah dari tindakan saja? tetapi hal itu tak semudah itu, tak s4esederhanan itu. Bahkan dari satu perbuatan yang sama, ia memiliki dasar pemikiran yang berbeda untuk setiap individu. Apa yang membuat manusia sebagai manusia? Hah! kegoblokan ku ini. harusnya aku pergi belajar dan membaca untuk mencari tahunya. mengapa malah bertanya-tanya sendiri?
Tapi begitulah. terkadang hal yang paling menyenangkan adalah bermain-main dengan pemikiran. Menyenangkan dan sangat berbahaya. bukankah kegoblokan manusia di sana? sangat tergoda untuk mendekati bahaya. hanya karena ego dan nafsunya. mengaoa manusia lebih sering berkeinginan untuk menentang sebuah larangan dan mengabaikan aturan. Ilusi kebebasan? bebas. Bahkan kita tak bisa memaknai kebebasan dengan benar. pada akhirnya itu semua hanyalah permainan pikiran. Gila. apakah perwujudan manusia itu pemikirannya? tetapi kita tak bisa dihakimi hanya berdasarkan pemikiran. kita bisa dihakinmi berdasarkan tindakan. bukankah begitu? bagaimanapun juga, tetap saja pemikiran itlah yang nantinya akan memantik tindakan. Lalu, apa yang menjadi kontrol dari pikiran? Nurani. yang berasal dari hati. Pada akhirnya manusia adalah suatu hal sederhana yang kompleks.
lucu sekali saat kita berpikir bahwa kita dibangun dan berdiri oleh diri sendiri sedangkan banyak hal yang akan mempengaruhi penilaian dan pembangun diri kita itu. tetapi, memang benar, di satu sisi, pada akhirnya bagaimana kita mengambil keputusan dan tindakanlah yang akan menjadikan diri kita sebagai diri sendiri. dunia eksternal dapat mempengaruhi saat kita membiarkannya untuk berlaku demikian. Dengan kata lain, faktor eksternal hanyalah pemantik yang akan menunjukkan bagian dari diri kita. Tetapi ini juga tidak bisa dipisahkan. Mula-mula kita adalah wadah yang kosong. Lalu kita isi dengan apapun itu ia mengendap dalam diri kita. Lalu kita akan memilahnya. memilahnya yang manakah yang akan kita jadikan diri kita. Jadi, kebebasan kita terletak di sana. wow, saya mulai kewalahan dengan banyaknya hal yang menghujani ini. Barusan saya terpikir beberapa hal sekaigus dan letih karena tak cukup cepat menuangkannya dan ia menghilang. dan lagi-lagi saya memikirkan benda yang dapat menstranfer pemikiran secara instan itu. tentu saja alat itu, jika ada akan menjadi benda yang celaka. bayangkan saja, betapa gila pikiran-pikran orang yang tak sempat diwujudkan itu. kebaikan dalam keterbatasan. ya, begitulah kita akan menyebutnya. Lalu, bukankah di sana letak manusia, usahanya. Manusia dinilai berdasarkan apa yang ia usahakan. yang ia wujudkan. saat ia berusaha dalam keterbatasan. Saat ia belajar. menggunakan pikirannya.
inilah yang terjadi jika saya hanya meluapkan pemikiran-pemikiran itu tanpa jeda. berputar-putar dan tak tahu arah. bahkan ia lebih chaos lagi. hanya saja, tangan saya terlalu lambat untuk menangkap dan menuangkannya dalam tulisan. Lihatlah inkonsistensi dan sebagai macamnya. itulah mengapa kita perlu menulis. melihat isi kepala kita dengan tenang. Mungkin, jikapun tak ditulliskan, mengambil jeda untuk berpikir kembali dengan tenang tetap bisa membantu kita berpikir jernih dan mendapatkan kebenaran . dengan refleksi atau apalah itu. Namun, menuliskannya membantu kita mengikatnya.
ya, begitulah suara atau proses pikiran jika tidak dihentikan. Ini juga saya terbata-bata. Bayangkan bagaimana berkelebatnya ia (pikiran) di saat terlintas dalam kepala.
Komentar
Posting Komentar