Day 29 Breaking The Prison of Mind's Cage
Kemarin nulis tentang 'lakukan saja.' Tadi, lihat salah satu postingan Dr. Julie Smith, ada dua poin yang menarik perhatian saya. Poin pertama, otak belajar melalui bukti dan poin kedua, otak juga belajar melalui repetisi. Ini mengingatkan saya tentang teori growth mindset dari Mindset, teori snap judgment dari Blink, dan teori identitas serta teori dua menit dari Atomic habit. Sangat masuk akal jika dikatakan bahwa kita dapat me-reset otak kembali. Sebab, memulai sesuatu yang baru adalah belajar dari nol hingga menguasainya.
Dr. Smith berkata bahwa otak belajar dari bukti. Oleh sebab itu, membangun, membentuk, atau mewujudkan suatu hal tak cukup hanya dalam pikiran atau ucapan saja. Otak memerlukan bukti nyata.
Contohnya kita berjanji akan berubah menjadi lebih baik atau akan melakukan sesuatu. Kita serius akan hal itu, terus memikirkannya dan membicarakannya. Dua hal tersebut tak akan membantu otak untuk mempelajari cara mewujudkan perubahan atau mengerjakan hal yang ingin kita kerjakan itu tanpa diiringi bukti.
Bahkan, hanya membicarakannya terus menerus dapat menghasilkan gratifikasi instan dari rilisan dopamin yang menipu diri, memberikan kesan seolah hal itu telah terjadi atau dilaksanakan. Padahal, kita perlu mengajari otak untuk percaya bahwa kita bisa berubah dan mencapai sesuatu itu. Otak hanya memerlukan bukti untuk mempercayainya. Bukti itu dapat kita peroleh dari tindakan nyata. Doing our saying is the best way to become someone that you trusted. To get that confident.
Otak belajar dari repetisi. Maka, untuk menguasai atau menjadi ahli kita hanya perlu mengajari otak untuk mengenalinya dengan melakukan hal tersebut berulang kali hingga membentuk kebiasaan, bahkan jati diri.
Mengadopsi mindset berkembang, dengan mempercayai proses dan menjadikan kegagalan sebagai bagian dari proses tersebut adalah cara pandang yang tepat untuk tetap berjalan mewujudkan tujuan kita. Berdasarkan teori identitas, kita dapat membangun diri dengan mengadopsi identitas yang kita inginkan kemudian berlaku seperti identitas tersebut. Jika berat, terapkan teori dua menit, perlahan dari skala kecil hingga skala maksimal yang dapat membawa kita pada tujuan itu. Terus secara berkala dan berkesinambungan. Kemudian, seiring dengan pengalaman dan kemampuan yang terus diasah berulang-ulang inilah yang membuat otak kita terbiasa mengenali suatu pola bahkan secara subtle. Kemampuan yang terus diasah akan menjadikan kita ahli. Akumulasi data, pengalaman, latihan, dan keahlian dalam waktu yang lama inilah yang menyebabkan seseorang dapat berpikir cepat, menilai sesuatu dengan hasil yang baik dalam hitungan sekejap mata, snap judgment.
Oh, ya. Saya jadi ingat saat dulu mengaji, dikatakan bahwa Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan oleh lidah, dan dibenarkan oleh tindakan. Seperti memberikan bukti pada otak. Menjadikan ia sesuatu yang nyata dan dapat dipercaya oleh diri sendiri. Lalu, di dalam agama, disiplin dan repetisi itu diajarkan dengan nyata. Salah satu contohnya solat. Dalam islam, sekurangnya seorang muslim hendaknya solat lima kali dalam sehari, membaca Al-fatihah (yang berisi tentang pengakuan kita atas Tuhan, pengakuan diri sebagai hamba-Nya, dan memohon petunjuk dari-Nya) di setiap raka'at. Dalam sehari minimal 17 rakaat. Tujuh belas kali repetisi surah Al-Fatihah. Dan ...ada begitu banyak ibadah lainnya yang mendekatkan kita kepada kebenaran dan kebaikan. Menumbuhkan iman/keyakinan. Bukankah ini juga seperti mengajari otak cara untuk membangun keyakinan dan kebiasaan? Mengajari kita cara menjadi pribadi yang dapat dipercaya? Atau seperti itulah kira-kira yang saya pahami tentang hal ini. Bisa saja saya salah memahami, Allahu alam.
Rabu, 22 Oktober 2025
Komentar
Posting Komentar