So ...
Reading slump dan writing block. Benar-benar parah. Sudah seminggu atau mungkin dua minggu stuck di lembaran awal bab dua dari Buku Mengapa Tidak Pernah Ada yang Memberitahuku. Sejauh--yang tak jauh-- yang sudah dibaca, saya menemukan poin menarik. Dr. Julie Smith menggaris bawahi bahwa, hubungan antara pikiran dan perasaan merupakan hubungan dua arah yang saling mempengaruhi. Jadi, bukan pikiran saja yang dapat mempengaruhi perasaan tetapi juga sebaliknya, perasaan kita dapat mempengaruhi cara berpikir kita pada saat itu.
Mungkin itulah yang saat ini terjadi dalam reading slump dan writing block ini. Saya jadi ingat teori kepribadian MBTI dengan melihat function stack. Mungkin dapat diibaratkan keadaan terjebak dalam fluktuasi suasana hati dan emosional serta overthinking seperti looping dalam dominant function dan tertiary function. Lalu, saat ingin membebaskan diri dari looping dengan cara yang kurang tepat, akan terjatuh pada kondisi grip. Entahlah.
Jika terjebak dalam looping, yang perlu dilakukan adalah menstabilkan keadaan dengan mengaktifkan fungsi auxiliary. Jika terjatuh dalam grip, kita perlu kembali terkoneksi dengan fungsi dominan. Begitulah kira-kira, setidaknya yang saya pahami.
Namun, apakah mungkin seseorang melompat dari loop ke grip, grip ke loop, dari waktu ke waktu, dalam jangka panjang, dan jarang sekali berada dalan keadaan healthy? Itu akan menjadi petaka.
Seperti terjebak dalam loop fluktuasi suasana hati dan emosi, dan ketika berhasil keluar dari lingkaran setan itu, ternyata dalam pelarian grip, melakukan tindakan impulsif yang hanya membuat kita menyesal. Itu memang petaka jika kita tidak segera menstabilkan fluktuasi tersebut. Kembali menggunakan fungsi dengan seimbang.
Entahlah.
Btw, What's your type?
Komentar
Posting Komentar