Fiksi Mini: Siluet

Oleh: S. N. Aisyah

Sudah pukul setengah sembilan. Anak-anak yang mengaji telah pulang satu per satu. Menyisakan aku dan adikku. Tetapi, Ayah belum juga datang menjemput. Keluarga Ustaz Susilo sudah bersiap-siap akan makan malam. Rasa segan merayapi diriku. Ketika diundang makan malam, aku dan adikku mohon  izin pamit, beralasan bahwa Ayah sudah terlihat di ujung gang. Datang menjemput. Maka setelah menyalami ustaz dan istrinya, kami berlarian menuju gang itu.



Malam sangat kelam. Langit beku tanpa bintang dan bulan. Awan-awan sedingin es siap meluruh. Sementara itu, dari belukar sana, terdengar sahutan hewan malam. Kami berjalan berdempetan. tanpa penerangan, kecuali senter kecil yang dipegang oleh adikku. 

Angin kencang menyapu. Menerbangkan kerudung. Langkah kami semakin cepat. Gemuruh mulai menyapa. Gang sejauh 200 meter itu terasa amat panjang.  Mengapa Ayah belum tiba juga?

Sepuluh langkah lagi,  gang yang dipagari beton si sisi kiri dan belukar di sisi kanan itu akan berakhir. Namun, tiba-tiba saja, senter kecil kami mati. Aku dan adikku membeku sejenak. 

"Udah-udah, ayo cepat," ucapku padanya. Kami saling menggenggam tangan. Di ujung sana, dari jalan raya sesekali lampu kendaraan yang melintas menyinari. Jarak sepuluh langkah itu kami tempuh dalam hitungan detik. Setengah berlari. 

Namun, belum lagi kami melewati mulut gang, tiba-tiba saja, siluet sosok lelaki muncul di sana. Berdiam diri.  Namun, ia terlihat seperti ayah. 

"Yah? Ayah?" panggil Adikku.

Hening. Tak ada jawaban. 

"Yah?" Aku mencoba memanggil. 

Sileut itu tidak bergerak. Sesuatu bersinar dari daerah yang seharusnya menjadi tempat matanya berada. Aku dan adikku kembali membatu.

Tiba-tiba kilat menyambar. menampakkan wujudnya. Seketika kami berteriak dan berlari ketakutan. 


Sabtu, 08 November 2025
 





Komentar

Postingan Populer