Poem: Dua Malam
Oleh: S. N. Aisyah
Tiap kali kutatap langit
Dedaunan seperti mendayu
Ditiup angin yang syahdu
Riuh di kejuahan memudar
Mewujud senyap
Ketenangan yang tak dapat
Kubeli di langit-langit mana saja
Lama sudah aku berbaring
Di puing-puing bawah tanah
Kamar pengap tempat mimpi
Jadi bangkai dan belulang
Berulang,
Menyebar momok dan aroma busuk
Mengaduk perut, memuakkan
Mungkin saja kematian-kematian
Harapan hanyalah pelipur lara
Yang kerap diputar ulang pada gawai;
Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
Siap menebas dan membakar
belukar dan rambat "si dingin"
Memecah cermin jadi beribu ingin
Telah lama aku berbaring
Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
Menyiram tahi dengan air seni.
"Kerja tak guna," begitulah kata guruku.
Kesia-siaan telah susupi materi putih.
Otakku jadi kotak-kotak
Serupa permainan balok di
taman kanak-kanak;
Selalu saja kehilangan tabung
Memicu tangis yang dibendung
Kata Ibuku ...
Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
menjelma gaduh saja
Buah dari kesopanan anak durhaka
Lagi-lagi aku bertanya,
Jika saja kutengadahkan kepala,
Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
berkawankan angkasa,
Menyapa bintang,
Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
Dan setangkai
mawar putih di atas peti?
Kota Bertuah, 10 April 2026
Komentar
Posting Komentar