Racauan (Lagi)

Sudah membuka laman ini sejak keamrin malam, akan tetapi belum tahu juga apa yang mesti dituliskan. Sudah sangat lama sejak menulis rutin itu, sejak tak melakukannya lagi, rasanya mulai kehilangan sesuatu. Di suatu hari, seorang teman pernah bilang, kemampuan itu kalau tak diasah nanti jadi tumpul. katanya, kalau kita menyia-nyiakan bakat yang diberikan Tuhan, nanti akan diambil dari kita. Sebuah insight yang sangat bagus. Sayangnya, saya tak punya bakat, tapi bisa jadi kebiasaan, skill (meski tak begitu bagus), niat, dan bahkan semua hal juga demikian. Jika tak dirawat, tak dijaga, bisa saja kita kehilangannya. Sebab, kita tak lagi pantas memilikinya. Dengan kata lain, Tuhan ambil sebab kita menyia-nyiakannya. Entah di mana si kawan itu sekarang. 

Ada banyak yang ingin dituliskan, tetapi di saat yang sama seperti tak ada hal yang bisa dituliskan. Mungkin karena bahkan dalam kesendirian paling gelap pun terkadang manusia takut akan kejujuran. Takut melihat bayangan dirinya yang penuh borok dan tak sebagus apa yang ia tunjukkan dan perdengarkan. 

Belakangan, saya sangat insecure. Betapa banyaknya wanita yang berdaya dan kuat, merantau sendirian, menghasilkan uang dan membiayai hidupnya sendiri, berani melakukan hal apapun, memiliki skill, cerdas,berkarakter elok, berpendidikan tinggi, punya mimpi dan mewujudkannya, tegar, intinya dapat hidup sendirian. Sesuatu yang saya tak pernah alami atau miliki dalam diri saya. Belum lagi di dunai seperti ini, saya merasa tidak memiliki tempat. semua orang menginginkan orang-orang, wanita yang dapat melakukan apapun sendirian. baik sebagai kenalan, teman, rekan kerja, pegawai, mentor, pasangan. Saya hampir tak dapat melakukan hal apa pun. Ketika merenung sendirian dan mendapati tak ada hal yang dapat saya kerjakan dengan baik, jujur saya sedikit merasa sedih. Meskipun kemampuan dapat di asah, namun, hati saya terlalu lembek untuk berjuang. sangat memalukan. satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan baik adalah menjadi pecundang. Atau begitulah yang saya pikirkan selama ini. 

Namun, saya melupakan satu hal. Memang benar, sejak dulu saya tak memiliki hal baik atau istimewa dalam diri saya. Tetapi, saya selalu melakukan hal yang saya bisa. meskipun itu sangat kecil dan tak berarti bagi orang lain, setidaknya dulu  saya tak pernah membandingkan diri dengan siapa pun dan hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan. Saya meninggalkan bagian diri itu, seorang yang tidak pernah membandingkan diri secara personal dengan orang lain hanya untuk merasa lebih buruk. saya tekankan secara personal, sebab, tentu saja hidup perlu perbandingan di beberapa sisi namun tidak di bagian lainnya. Skill dan kualitas, perlu dibandingkan bukan secara personal, tetapi secara objektif agar dapat lebih baik lagi. Sementara pribadi atau personal tidak perlu dibandingkan sebab setiap individu berbeda. 

Hal ini yang  belakangan sering saya lupakan. Hal yang dahulu seperti bernapas bagi saja. Hal yang tanpa saya sadari, membantu saya untuk terus berjalan dalam hidup, atas izin Allah. semuanya atas Izin Allah. Dan ... Alhamdulillah sekarang saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali menyadarinya. Saya ingin merawatnya agar menjadi orang yang tetap layak untuk dititipi mindset ini. Semoga saja. 

Ah, racauan tak berstruktur lagi. Apa boleh buat. Sampai jumpa!


Komentar

Postingan Populer