What Does Baking Taught Me

Ramadhan kemarin belajar baking di rumah dengan adik. Coba buat sugar palm cheese cookies dan kue kering sumprit. Pertama kali benar-benar pay attention di permasalahan baking. Dulu, biasanya hanya akan melakukan apapun yang diminta tanpa benar-benar memperhatikan. Bisa dikatakan baking dan memasak bukanlah passion saya. Bagi saya, makanan adalah makanan. makan hanya sekadar makan. Untuk bertahan hidup. Mungkin cita rasa atau selera saya adalah yang terburuk yang pernah ada. Sebab, tak mengerti sama sekali rasa dari makanan. Saya hanya akan melahap makanan selagi ia masih edible dan halal tentunya. 

Pada saat itu, saya benar-benar kehilangan semangat atas hal-hal dan Ramadhan selalu saja membawa suatu kebaikan yang tak bisa saya jelaskan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan berkah Ramadhan. Jadi, saat adik saya mengatakan hendak membuat kue, tiba-tiba saja saya minta diajari dari awal. And she was very welcome about it. Lucky me, to have her, right? Alhamdulillah. 

Anyway. Selama belajar baking dengan paying attention, ada beberapa hal yang akhirnya saya sadari:

1. Proses membuat makanan itu, akan sangat menyenangkan jika kita mengerti apa yang sedang kita kerjakan, nggak cuma tunggu intruksi. Meskipun sekadar jadi asisten koki, kalau kita pay attention, semua hal akan menjadi menarik. Dan saya yakin ini tak hanya berlaku untuk baking, tapi untuk setiap hal. Uou start to pay attention when you're interested or YOU CAN PAY ATTENION to MAKE THINGS INTERESTING. 

2. Pertama kali coba menakar, mengadon, mencetak sampai memanggang dalam oven sendiri dengan paying attention, membuat saya mengerti mengapa orang-orang yang suka masak mencintai memasak dan masakan mereka. The feelings grow within the care. Perasaan itu dapat tumbuh dengan perhatian. Dan untuk membuatnya tetap ada, perlu dirawat. Hadir di setiap prosesnya dengan tulus. 

3.  You have to make sure, just in case something is going wrong. Jadi, kalau mengikuti intruksi, suhu dan durasi api yang digunakan oleh panduan ternyata nggak cocok di oven rumah atau mungkin adonan dan cetakannya yang kurang sesuai. Percobaan pertama rada gosong. it's a little bit too brown than it supposed to be. 

4. Sabar dan persisten. Well, nggak perlu penjelasan lebih lanjut.

5. Do it with love. Selama ini saya memasak hanya teknikal. Itu juga tekniknya nggak bagus. Jadi, ya ... begitulah. Kakak saya bilang, kekurangan dari masakan saya itu kurang cinta. Mungkin itu benar, karena jujur memasak hingga saat itu bukanlah hal yang saya nikmati, saya melakukannya karena itu salah satu cara bertahan hidup dan kita memerlukannya. Sejak belajar baking dan ngelihat hasil cetakannya yang lumayan dari hasil itu dan bocil-bocil bilang enak (entah iya atau enggak), itu menghasilkan perasaan yang berbeda. Senang? entahlah.

Jadi, belakangan, sesuatu berubah. Tiba-tiba saja, suatu hari saya makan dan hampir menangis karena rasanya. Entah karena memang enak atau karena ada sesuatu yang salah dengan diri saya waktu itu. Saya bahkan tidak ingat makanan apa yang membuat saya hampir menangis saat itu. Lalu, ada juga saat-saat di mana saya sangat kagum dengan rasa masakan yang biasanya saya tak begitu notice. Ada kalanya saya mulai membandingkan rasa masakan,  dan juga sedikit keecewa dengan rasa yang menurut saya terlalu asin (tetap dihabiskan, kok). Perubahan-perubahan ini membuat saya sedikit terkejut. Anehnya, saya sebelumnya tak pernah terlalu memusingkan soal rasa makanan. Maksudnya, selagi masih edible saya makan. Tidak terlalu picky kecuali untuk beberapa hal yang memang tidak bisa saya konsumsi (urgensi), bukan sekadar tidak suka. Saya makan tanpa protes ataupun (belakangan baru sadar juga tanpa menikmatinya), sebab bergitulah cara saya menghargai dan bersyukur atasnya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa menikmati rasa makanan juga bentuk syukur atas nikmat dan karunia dari Tuhan. Serta bentuk penghargaan kepada orang yang telah membuat dan menyajikannya. Kini sudut pandang mekanikal saya dalam perkara makanan dan memasak diketuk palu kecil kue sumprit dan sugar palm cheese cookies yang hanya sebesar kue cubit. But I still want to able appreciate food no matter what and how it taste. Only add that it's good if you can differentiate the taste and enjoy it. 


Minggu, 26 April 2026

09 : 15 WIB

Komentar

Postingan Populer