Oleh: S. N. Aisyah
Minggu itu, di sebuah los pasar, dua wanita muda tengah terlibat dalam suatu percakapan.
”Kurasa, kalau gini terus, aku bisa keluar,” ujar Ren. Wajahnya berkerut, namun tidak terdengar sungguh-sungguh.
”Yah, hal begini mesti ditimbang lagi, kan? Jangan gegabah,” Adrian menimpali. Adrian seorang pegawai swasta. Ia adalah tipikal orang yang bangun bahkan sebelum alaramnya berbunyi. Pegawai yang senantiasa menyeduh kopi sebelum memulai rutinitas harian sebagai pekerja.
”Belum kuputuskan emang. Mesti realistis juga, cari kerjaan tak gampang.” Ren seorang pekerja kontrak yang masih sangat hijau di dunia kerja. Kalau ditaksir, baru tiga tahun ia bekerja sebagai karyawan kontrak setelah masa magangnya berakhir.
”Ini masalah rumit.” Adrian tampak sedikit merenung, agaknya ia terjebak dalam pikirannya sendiri.
”Lihat, lihat mentimun itu!” Ren memecah renungan Adrian. Ia menunjuk ke arah wanita tua di seberang los. Separuh gerai wanita itu disesaki mentimun. Tampak seorang pembeli tengah bernegosiasi.
”Iya, kenapa mentimunnya?” Adrian masih belum mengerti maksud Ren.