Jumat, 26 Juni 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. TIGA)

 Ada suatu pemahaman yang sedikit ganjil dalam diriku. bahwa aku tak boleh menangis. bagiku menangis itu lemah, namun, tidak demikian jika orang lain yang menangis. entah mengapa aku memiliki standar ganda atas hal-hal antara diriku dan orang lain. apakah ini yang dinamakan self critics berlebihan? entahlah. 

Jadi, menurutku menangisi hidup sendiri merupakan sebuah ketidakpatutan. Sebisa mungkin itu kuhindari. Karena, sesungguhnya aku tak melihat ada alasan untuk menangisis dan mengasihani diri sendiri. itu terasa aenh dan ganjil. Tetapi meskipun begitu aku adalah orang yang amat cengeng. Katakanlah terlalu sensitif. ya. setidaknya begitulah yang kutahu. sepertinya ada jarak yang amat dalam dan jauh antara bagaimana aku menetapkan standar dan kemampuan untuk memenuhinya. pada titik ini aku merasa seperti kalakatu.

Meskipun begitu aku ingin mencoba. sudah bertahun-tahun--bisa dikatakan seumur hidup--aku menjalani omong kosong. aku punya cita-cita. ya, benar. begitulah seharusnya. dan aku masih menyimpan sebongkah kecil baranya dalam saku. mungkin itulah yang membuatku sedikit meringis namun tak jua bergerak untuk membebaskannya menjadi api. 

Apakah aku takut terhadapnya, entahlah, aku lebih takut atas ketidakmamuanku dalam berbaur dengan manusia dan zamannya. entah mengapa demikian. padahal dahulu sering kulakukan hal bodoh dan mengorbankan rasa malu hanya untuk mencoba dan mencari tahu batasku. satu prinsip yang menguatkan aku ketika itu adalah, 'setiap hal memiliki fase pertama kali'. untuk itulah aku  maju. dengan keluguan atau lebih tepatnya kedunguan. setelah melewati banyak hal, dalam hidup yang dangkal dan serba tanggung ini, aku mulai mengerti bagaimana ketulusan, tekad, usaha, jujur,  dan niat lururs tanpa agenda tersembunyi tak akan pernah cukup. dan kesalahan fatalku, diseret arus krisis itu. 

meskipun dengan sadar mengetahui bahwa nilai kita tidak bergantung pada penilaian orang lain terhadap kita (sebab yang mereka tahu hanyalah bagian dari serpihan diri kita. ) tapi tak bisa kuelak betapa hal itu mempengaruhi cara pandang dan rasa percayaku untuk menjalani hidup seperti sebelumnya. saat slogan 'selalu ada kali pertma' dan slogan 'belajar dari kesalahan' masih menjadi  bahan bakarku untuk melangkah (bahkan pada hal yang nekad sekalipun).

ya. ini hanya mencari alasan dan bentuk kedunguan lainnya. aku akui itu. pengecut dalam diriku mencari pembenaran atas  pelariannya. atas ketidakbecusannya memecahkan masalah. seolah segala hal yang pernah kupelajari, semua hal yang kubaca tak ada artinya. apakah aku hidup dalam lelucon dan kebohongan tengik yang sama sekali tak lucu. atau mungkin ini sangat lucu dan konyol. sangat konyol dan dungu. entahlah. aku bahka tak punya kosakata yang baik untuk mencurahkan pikiranku sendiri. betapa dangkal dan tak berisinya kepalaku.

berkali-kali kukatakan untuk tak mengeluh seperti ini. terus saja kulakukan. habit memang sangat berbahaya. Dr. Julie Smith sepertinya pernah mengatakan suatu hal seperti 'bahwa otak kita akan merespon dengan jalur yang ia ketahui. tentu sja bukan seperti itu penjelasan Dr. Smith. intinya, otak ita belajar dengan repetisi. semakin sering kita ulangi sesuatu, semakin mahir dan kuat ia tertanam dalam benak kita. begitulah, kau sudah menegrti maksudku, kan? kabar baiknya, kita dapat menulis ulang jalur yang telah dipetakan oleh otak, tinggalkan repitisi hal buruk. ganti dengan hal baik. perlu usaha memang. aku juga ingin mencobanya. sayangnya aku tak tahu harus dengan apa diganti obrolan negatif ini. tak ada kebaikan yang dpaat kutemui dalam diriku. tapi, aku di sini untuk menjadi lebih baik. jadi bair kuralat. aku BELUM menenukan hal baik dalam diriku yang dapat menulis ulang vitrin-vitrin dalam lorong-lorong jaringan yang telah terbangun dalam otakku selama ini. 

maka daripada itu, aku akan menuliskannya saja. oh, kukatakan aku pernah punya mimpi. dan sempat mengejarnya. tetapi kandas. namun, mungkin aku hanya tak berusaha untuk memilikinya. bahkan minus effort? Jadi, aku tak berhak mengeluh atas hal tersebut. mimpi itu, cita-cita itu, bagaimana aku akan menempatkannya sekarang. apa karus kukejar lagi atau kumasukkan dalam tong sampah saja? tahu apa cita-cita yang kumaksudkan? tapi, omomg-omong tentang membuangnya, aku jadi ingat seseorang oernah berkata untuk tak membunuh suatu ide hingga ia mendapatkan audiens yang tepat. kira-kira sperti itulah kata jiwa berkilau itu (allahuma barik). dia benar. sebaiknya tak kubuang dulu. 

ya, begitu saja. sudah dulu. besok kutemui kau lagi.


02:05 WIB

26 Juni 2026



Selasa, 23 Juni 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. DUA)

Sepertinya aku salah mengartikan membosankan. Hidup membosankan, nyaman, dan aman itu bukan hal yang buruk. Yang menjadikannya seperti penjara adalah stuck atau mandek. Kau bisa hidup dengan bosan, nyaman, dan aman tapi terus berkembang. Hidup tak melulu harus menarik dan sensasional. Yah, sedari sekolah aku selalu berpikir,"hidup tak hanya untuk bersenang-senang". memang begitulah adanya. 

Belakangan ini aku menulis di beberapa tempat secara random dan berantakan. seperti isi kepalaku. terlalu banyak diisi sampah atau tak ada isinya sama sekali. ya, kepalaku. Tapi, aku di sini bukan untuk bemuram durja. Ke-random-an ini membuatku ingat akan buku Stolen Focus karya  Johann Hari. sebelumnya aku harus sampaikan rasa terima kasih pada jiwa berkilau yang  menyarankan buku ini. dari dulu tak pernah begitu menganggap penting tidur meskipun aku dulunya seorang tukang tidur yang parah. lalu, seperti sudah menghabiskan tiket tidur, kini tidur seperti es krim terakhir yang kau jatuhkan. 

sudah kukatakan tidur tak pernah menjadi perhatian dalam hidupku, kan? begitu menginjak bangku kuliah, aku adalah orang yang berpikiran andai saja kita bisa hidup tanpa tidur. memasuki dunia kerja, otakku diracuni dengan pemikiran bahwa tidur empat jam sehari saja sudah cukup. ketika masih memiliki pemikiran itu aku baik-baik saja. 

hingga entah sejak kapan, rasanya hidup sangat aneh. begitu pula tidurku jadi sangat berantakan. ada periode aku hanya tidur dua jam sehari dan hari berikutnya tidur hingga lima belas jam (atau lebih). rata-rata tidur harian 3-4 jam, tidur lima jam adalah tidur yang paling mendekati normal. ya, masa-masa yang mengherankan. meskipun sekacau itu, aku menganngap hal ini biasa dan menginginkan tidur adalah manja. hingga akhirnya membaca buku ini. 

Aku tak pernah begitu menginginkan tidur seperti sekarang. oke, memang beberapa waktu belakangan ini, (enam bulan atau lebih?) aku menginginkan tidur, namun, buku ini membuat tidur tiga kali lipat lebih kurindukan. seperti merindukan 'your book' setelah membaca ribuan buku yang meskipun bagus tak dapat memikat jiwamu. seperti itulah pandanganku terhadap tidur saat ini. meskipun begitu, entah mengapa aku tidak juga mendapatkannya. entahlah. 

hal-hal sederhana dan membosankan seperti tidur adalah hal yang kuinginkan dalam hidup. mengejar spark semata, rasanya sangat tidak cocok, ya, aku menyukai hal-hal yang menngguncang jiwa untuk merasakan hidup, memantik pemikiran untuk menyala, menyentuh hati dan meneguhkannya. tetapi bukan hanya dalam kekacauan, meskipun aku dapat dikatakan orang yang kacau? ah, tidak. aku hanyalah orang biasa yang membosankan. intinya, aku ingin semua hal apakah itu bosan atau 'spark'. semuanya dalam kedamaian dan ketenangan. Apa itu masuk akal? Ah, masuk akal? akal siapa? 

just don't let your focus stolen. can you?

besok kutemui kau lagi. 

00: 44
Wed, 24 Jun 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. SATU)

 Hei. Aku tahu ini memuakkan untuk didengar. Bahkan tak layak untuk diumbar. Tapi, aku akan tuliskan saja. 


Silakan di-skip, karena tulisan ini akan menambah beban dan melelahkan. 


Aku menuliskannya untukku. Dan menyimpannya di dinding ini. Memampangnya. Bukan untuk dikasihani. Tapi untuk mempermalukan diri dan memakinya nanti. 


Aku telah membakar jembatan yang menghubungkanku dengan masa lalu. Dalam keegoisan dan keangkuhanku, mengira itu jalan terbaik dan tercerdas. Aku tak membutuhkannya, masa lalu. Seperti kucing yang sekarat, menyendiri sudah jadi mode default. 


Ingatanku sedari dulu sudah kabur, tapi sekarang, juga diliputi asap-asap pembakaran itu. Aku tak dapat melihat lagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang hadir di masa lalu. Atau benarkah kebahagiaan itu ada? 


Hidupku baik-baik saja. Tetapi juga tidak. Suatu hari, aku bertanya, bagaimana mungkin hidup orang lain begitu menarik, sedangkan nyaris tak ada yang terjadi dalam hidupku. 


Tak ada bencana, tak ada pencapaian. Hidup adalah tanah datar yang luas. Amat luas, gundul dan gersang. Tak ada  kebahagiaan, juga tak ada penderitaan. 


Tidak, aku tak meminta penderitaan. Aku juga tak tahu pengertian bahagia dan cara mengidentifikasinya.  Mungkin aku hanya seorang hamba tolol angkuh yang tidak pandai bersyukur. Ya, pasti begitu. 


Dulunya begitu. Tak ada kesenangan, kebahagiaan dan tak ada pula kesengsaraan dan penderitaan. Apakah aku memiliki mimpi-mimpi? Kupikir begitu. Namun, lebih jauh lagi, aku mnegtahui apa yang ada dalam diriku. Kebusukan yang selalu kutatap lamat-lamat dalam gelap, yang tak ingin kubagikan pada siapapun.


Aku menyampaikannya. mengatakan bahwa hidupku datar-datar saja. Nyaris tak ada yang terjadi. Tak ada ledakan emosi, kejadian-kejadian yang mengherankan, menakutkan, membahagiakan, atau apa pun itu yabg dapat kuingat dan kubagikan sebagai sebuah kisah, sebuah sejarah dalam hidup. Tidak. Aku tidak meminta bencana dalam hidupku. Aku bersyukur hidupku baik-baik saja. Aku selalu saja tercengang mendengar kisah hidup orang yang menakjubkan dalam artian baik  atau tidak menguntungkan. 


Sudah kukatakan hidupku sangat membosankan.  Bukan karena hidup yang membosankan. Tetapi akulah yang menjadikannya begitu. Itu satu-satunya kebenaran dalam hal ini. 


Hidup membosankan, nyaman, dan aman seharusnya bukanlah masalah. Tapi ini jadi masalah saat bahkan dalam hidup yang sangat aman ini sekalipun aku menjadi pesakitan sinting. kurasa ada sesuatu yang salah denganku. tapi, aku tak tahu apa. Ada kebenciann yang mendalam pada diriku. Kebusukan yang tak dapat kucintai meskipun dapat kuterima. Ya, omong kosong gila, tetapi itulah nyatanya. Tidak, aku tidak ingin menjadikan hal ii sebagai pembenaran. bahwa beginilah diriku. Tak dapat diperbaiki. Bukan begitu. Hanya saja, aku tahu, seberapa keras pun aku berusaha, aku tak akan pernah dapat diperbaiki., tidak akan pernah pantas. 


Sialan. Aku mulai mengumpat lagi. Jika diingat-ingat dengan ingatan yang tak seberapa ini, aku tahu bahwa emosi yang kukenal dengan baik adalah amarah dan kesedihan. Sedih. sangat menjiikan. rasanya aku membesar-besarkan ini semua dan menjadi berlebihan atas segala hal. Aku selalu berlebihan. Aku membenci dirku namun lebih suka bersamanya dibandingkan menjadi amat sendirian ketika bersama orang lain. Bukan, Aku tidak membenci orang yang lain. Aku tahu seberapa buruk dan lebaynya diriku. maka setiap kali bersama orang lain, aku tak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk mereka. Aku tahu aku hanya akan membawa masalah. bagaimanapun itu. Sepertinya tak ada yang dapat kulakukan selain menciptakan banyak masalaha atau hanya menjadi beban. 


berusaha. bajingan tengik ini banyak omong. dengarkan. hey, kau apa kau mendengarkan? kau bajingan tengik yang tak berguna. cobalah lakukan sesuatu di hidupmu tanpa merepotkan orang lain. bisa tidak? oh, sialan. mengapa masih hidup? Tidak ini hal yang salah. sangat salah. aku tidak boleh begini. berlaku berlebihan seperti ini. apa yang kuinginkan dalam hidup? apakah berhak menginginkan sesuatu? 


Sudah banyak kulihat pengorbanan dan penderitaan orang lain untukku dan itu sungguh tidak perlu. rasa-rasanya aku mau mati saja seperti pengecut. tapi jika begitu apa aku akan menyakiti orang-orang di sekitarku? tentu saja aku gak punya kendali atas itu. dunia hanya akan kehilangan seonggok sampah lainnya. Aku tak ingin seperti ini, sungguh. aku juga ingin berkata dan mendengar tanpa perlu merasa surut. Sepupuku pernah bilang, yang penting itu mental. Dia benar. mengapa ia pergi begitu cepat. Sialan aku jadi ingat diajari gitar olehnya. bernyanyi di lorong dapur. Kadang-kadang, kalau selera lagunya diputar oleh entah siapa saja melalui apa saja, aku sering mengingatnya. 

Sepupuku satu lagi juga baru saja pergi. terakhir bertemu mungkin dua tahun lalu, kami bicara banyak tentang buku. dan aku benar-benar ingin mengajaknya ke pustaka jika ia berkunjung ke sini. sekarang itu hanya jadi bagian omong kosongku yang lainnya. aku juga tak datang ke pemakaman kawan SMA-ku. bajingan sekali. 


Sangat tak suka ketika aku menginginkan sesuatu, letih sekali. aku mau istirahat dari dirriku. apa bisa? meninggalkannya sendirian. tapi, jika begitu, ia tak akan pernah bisa diterima. Ia akan selalu sendirian seperti Si Makhluk yang dibuat oleh Frankenstein. Jadi aku akan menerimanya, bagaimanapun juga. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padanya.


Aku ini kenapa? Andai saja aku bisa menelusuri asal-usul penyakit sintingku ini. sayangnya tak banyak yang aku ingat untuk dapat menjawabnya. aku ingat banyak hal dari masa lalu tentang orang-orang. Tapi sulit sekali mengingat diri sendiri. 


Apa-apaan tulisn lemah dan cengeng ini. menjijikan. aku akan kembali dan akan muntah dihadapanmu nanti. sial. Ini tidak baik. aku mulai mengumpat lagi. sudah lama kutinggalkan hal itu. aku tak pernah nyaman berkata kasar kepada orang lain dan keadaan. itu tidak patut. tetapi untukku sendiri rasanya tak apa-apa. ini tak seperti menyakiti siapapun. Aku hanya mengatakan hal yang sesungguhnya. 


Ya, satu-satunya pemghubungku dengan masa lalu adalah orang-orang yang tak lagi kutemui. atau masih kutemui tapi kami tak pernah benar-benar bicara lagi. bicara tak ada artinya. aku mengerti betapa melelahkan bicara denganku tentangku. seperti mengurai sampah. sungguh aku tak pernah menyalahkan siapaun. dan aku tak merajuk atau marah atau tersinggung aku hanya mengerti lalu itu juga semuanyaa menjadi salah. entahlah bagaimana cara menyampaikan dengan benar. oh, terllu negatif dan playing victim, ya? aku tak menyalahkan siapapun aku hanya berlebihan. hal yang tak baik dan aku tak tahu bagaiaman caranya agar menjadi normal. kurasa itu hanya bukan untukku. mungkin ini yang dinamakan terlalu sensi. entahlah. apa pun. label saja apa pun . tak akan ada bedanya. kebenaran adlah kebenaran. aku tak dapat melarikan diri dari realita. dan tak akan.


Aku hanya ingin melakukan hal yang benar dengan benar. meskipun aku hanya sampah aku masih ingin berguna. Aku tak punya apapun dan itu tak masalah. tak pernah menjadi seorang yang baik tapi tuhan selalu baik padaku. ia menitipkan banyak hal baik dan orang-orang baik di hidupku. tapi mengapa aku masih seperti ini? aku tak mengeluh. aku hanya ingin tahu megapa aku jadi begini. tak ada satu kebaikanpun dalam diriku yang bisa membuatku menyayanginya. aku tahu segala kebusukannya. aku tahu kebusukanmu. bagaimana mungkin aku bisa menyukaimu? 


bisakah sekali saja kita berguna? melakukan sesuatu dengan benar dan buang semua hal menjijikan dalam dirimu itu? lebay, drama, cari perhatian? jijik.


aku di sini bukan untuk merengek. jadi, kalau mau buang waktu untuk itu, segera mampuslah. ayo. kita mulai. jangan lagi bicara yang tak perlu. apa? kau hidup serampangan dalam kehidupan yang mudah, semena-mena dan menjadi tak berguna hanya lalu merengek karenanya? yang benar aja. dasar sinting! kalau kau tak bisa lakukan. aku tahu kau tak bisa. kembalikan ini semua padaku. menyalahkan ingatan yang buram? memangnya apa yang mau kau ingat? mau kau apakan kalau ingat? mengangis dan terpuruk, mengasihani diri? cih! mati saja sana. tapi, kawan. aku tahu. aku membencimu dan kau membenciku. tugas kita hanya satu. hidup dan segala hal di dalamnya. melakukan hal yang benar dengan cara yang benar. kita tak harus menjadi siapa-siapa dan memiliki apa-apa. hanya jadi manusia berguna yang tak merugikan saja. yang paling penting. jadi seorang hamba. lakukan yang bisa kau lakukan. bukan. ayo kita lakukan apa yang kita bisa. Jika kau sangat sensitif seperti ini gunakan perasaan tololmu untuk hakl yang berguna. bukan hanya mengasihani diri dan merengek. ubah ia menjadi empati untuk orang lain. dasar tolol. dan  aku akan mencari cara untuk mengeluarkan kita dari sini. kau percaya saja. mungkin kita hanya perlu memahami kembali makna hidup dan kembali belajar. tapi jangan terlalu tinggal dalam kepala. di sini sumuk dan memuakkan meskipun terasa lebih aman dibandingkan dengan dunia luar sana. tapi, tidakkah bisa kau apresiasi hal-hal yang baik dalam hidup? jika tak bisa hidup untuk diri sendiri (ya, tentu saja tak ada alasan untuk itu) setidaknya hiduplah untuk jadi berguna. 


17:26

Tue, 23 Jun 2026


Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...