Hei. Aku tahu ini memuakkan untuk didengar. Bahkan tak layak untuk diumbar. Tapi, aku akan tuliskan saja.
Silakan di-skip, karena tulisan ini akan menambah beban dan melelahkan.
Aku menuliskannya untukku. Dan menyimpannya di dinding ini. Memampangnya. Bukan untuk dikasihani. Tapi untuk mempermalukan diri dan memakinya nanti.
Aku telah membakar jembatan yang menghubungkanku dengan masa lalu. Dalam keegoisan dan keangkuhanku, mengira itu jalan terbaik dan tercerdas. Aku tak membutuhkannya, masa lalu. Seperti kucing yang sekarat, menyendiri sudah jadi mode default.
Ingatanku sedari dulu sudah kabur, tapi sekarang, juga diliputi asap-asap pembakaran itu. Aku tak dapat melihat lagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang hadir di masa lalu. Atau benarkah kebahagiaan itu ada?
Hidupku baik-baik saja. Tetapi juga tidak. Suatu hari, aku bertanya, bagaimana mungkin hidup orang lain begitu menarik, sedangkan nyaris tak ada yang terjadi dalam hidupku.
Tak ada bencana, tak ada pencapaian. Hidup adalah tanah datar yang luas. Amat luas, gundul dan gersang. Tak ada kebahagiaan, juga tak ada penderitaan.
Tidak, aku tak meminta penderitaan. Aku juga tak tahu pengertian bahagia dan cara mengidentifikasinya. Mungkin aku hanya seorang hamba tolol angkuh yang tidak pandai bersyukur. Ya, pasti begitu.
Dulunya begitu. Tak ada kesenangan, kebahagiaan dan tak ada pula kesengsaraan dan penderitaan. Apakah aku memiliki mimpi-mimpi? Kupikir begitu. Namun, lebih jauh lagi, aku mnegtahui apa yang ada dalam diriku. Kebusukan yang selalu kutatap lamat-lamat dalam gelap, yang tak ingin kubagikan pada siapapun.
Aku menyampaikannya. mengatakan bahwa hidupku datar-datar saja. Nyaris tak ada yang terjadi. Tak ada ledakan emosi, kejadian-kejadian yang mengherankan, menakutkan, membahagiakan, atau apa pun itu yabg dapat kuingat dan kubagikan sebagai sebuah kisah, sebuah sejarah dalam hidup. Tidak. Aku tidak meminta bencana dalam hidupku. Aku bersyukur hidupku baik-baik saja. Aku selalu saja tercengang mendengar kisah hidup orang yang menakjubkan dalam artian baik atau tidak menguntungkan.
Sudah kukatakan hidupku sangat membosankan. Bukan karena hidup yang membosankan. Tetapi akulah yang menjadikannya begitu. Itu satu-satunya kebenaran dalam hal ini.
Hidup membosankan, nyaman, dan aman seharusnya bukanlah masalah. Tapi ini jadi masalah saat bahkan dalam hidup yang sangat aman ini sekalipun aku menjadi pesakitan sinting. kurasa ada sesuatu yang salah denganku. tapi, aku tak tahu apa. Ada kebenciann yang mendalam pada diriku. Kebusukan yang tak dapat kucintai meskipun dapat kuterima. Ya, omong kosong gila, tetapi itulah nyatanya. Tidak, aku tidak ingin menjadikan hal ii sebagai pembenaran. bahwa beginilah diriku. Tak dapat diperbaiki. Bukan begitu. Hanya saja, aku tahu, seberapa keras pun aku berusaha, aku tak akan pernah dapat diperbaiki., tidak akan pernah pantas.
Sialan. Aku mulai mengumpat lagi. Jika diingat-ingat dengan ingatan yang tak seberapa ini, aku tahu bahwa emosi yang kukenal dengan baik adalah amarah dan kesedihan. Sedih. sangat menjiikan. rasanya aku membesar-besarkan ini semua dan menjadi berlebihan atas segala hal. Aku selalu berlebihan. Aku membenci dirku namun lebih suka bersamanya dibandingkan menjadi amat sendirian ketika bersama orang lain. Bukan, Aku tidak membenci orang yang lain. Aku tahu seberapa buruk dan lebaynya diriku. maka setiap kali bersama orang lain, aku tak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk mereka. Aku tahu aku hanya akan membawa masalah. bagaimanapun itu. Sepertinya tak ada yang dapat kulakukan selain menciptakan banyak masalaha atau hanya menjadi beban.
berusaha. bajingan tengik ini banyak omong. dengarkan. hey, kau apa kau mendengarkan? kau bajingan tengik yang tak berguna. cobalah lakukan sesuatu di hidupmu tanpa merepotkan orang lain. bisa tidak? oh, sialan. mengapa masih hidup? Tidak ini hal yang salah. sangat salah. aku tidak boleh begini. berlaku berlebihan seperti ini. apa yang kuinginkan dalam hidup? apakah berhak menginginkan sesuatu?
Sudah banyak kulihat pengorbanan dan penderitaan orang lain untukku dan itu sungguh tidak perlu. rasa-rasanya aku mau mati saja seperti pengecut. tapi jika begitu apa aku akan menyakiti orang-orang di sekitarku? tentu saja aku gak punya kendali atas itu. dunia hanya akan kehilangan seonggok sampah lainnya. Aku tak ingin seperti ini, sungguh. aku juga ingin berkata dan mendengar tanpa perlu merasa surut. Sepupuku pernah bilang, yang penting itu mental. Dia benar. mengapa ia pergi begitu cepat. Sialan aku jadi ingat diajari gitar olehnya. bernyanyi di lorong dapur. Kadang-kadang, kalau selera lagunya diputar oleh entah siapa saja melalui apa saja, aku sering mengingatnya.
Sepupuku satu lagi juga baru saja pergi. terakhir bertemu mungkin dua tahun lalu, kami bicara banyak tentang buku. dan aku benar-benar ingin mengajaknya ke pustaka jika ia berkunjung ke sini. sekarang itu hanya jadi bagian omong kosongku yang lainnya. aku juga tak datang ke pemakaman kawan SMA-ku. bajingan sekali.
Sangat tak suka ketika aku menginginkan sesuatu, letih sekali. aku mau istirahat dari dirriku. apa bisa? meninggalkannya sendirian. tapi, jika begitu, ia tak akan pernah bisa diterima. Ia akan selalu sendirian seperti Si Makhluk yang dibuat oleh Frankenstein. Jadi aku akan menerimanya, bagaimanapun juga. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padanya.
Aku ini kenapa? Andai saja aku bisa menelusuri asal-usul penyakit sintingku ini. sayangnya tak banyak yang aku ingat untuk dapat menjawabnya. aku ingat banyak hal dari masa lalu tentang orang-orang. Tapi sulit sekali mengingat diri sendiri.
Apa-apaan tulisn lemah dan cengeng ini. menjijikan. aku akan kembali dan akan muntah dihadapanmu nanti. sial. Ini tidak baik. aku mulai mengumpat lagi. sudah lama kutinggalkan hal itu. aku tak pernah nyaman berkata kasar kepada orang lain dan keadaan. itu tidak patut. tetapi untukku sendiri rasanya tak apa-apa. ini tak seperti menyakiti siapapun. Aku hanya mengatakan hal yang sesungguhnya.
Ya, satu-satunya pemghubungku dengan masa lalu adalah orang-orang yang tak lagi kutemui. atau masih kutemui tapi kami tak pernah benar-benar bicara lagi. bicara tak ada artinya. aku mengerti betapa melelahkan bicara denganku tentangku. seperti mengurai sampah. sungguh aku tak pernah menyalahkan siapaun. dan aku tak merajuk atau marah atau tersinggung aku hanya mengerti lalu itu juga semuanyaa menjadi salah. entahlah bagaimana cara menyampaikan dengan benar. oh, terllu negatif dan playing victim, ya? aku tak menyalahkan siapapun aku hanya berlebihan. hal yang tak baik dan aku tak tahu bagaiaman caranya agar menjadi normal. kurasa itu hanya bukan untukku. mungkin ini yang dinamakan terlalu sensi. entahlah. apa pun. label saja apa pun . tak akan ada bedanya. kebenaran adlah kebenaran. aku tak dapat melarikan diri dari realita. dan tak akan.
Aku hanya ingin melakukan hal yang benar dengan benar. meskipun aku hanya sampah aku masih ingin berguna. Aku tak punya apapun dan itu tak masalah. tak pernah menjadi seorang yang baik tapi tuhan selalu baik padaku. ia menitipkan banyak hal baik dan orang-orang baik di hidupku. tapi mengapa aku masih seperti ini? aku tak mengeluh. aku hanya ingin tahu megapa aku jadi begini. tak ada satu kebaikanpun dalam diriku yang bisa membuatku menyayanginya. aku tahu segala kebusukannya. aku tahu kebusukanmu. bagaimana mungkin aku bisa menyukaimu?
bisakah sekali saja kita berguna? melakukan sesuatu dengan benar dan buang semua hal menjijikan dalam dirimu itu? lebay, drama, cari perhatian? jijik.
aku di sini bukan untuk merengek. jadi, kalau mau buang waktu untuk itu, segera mampuslah. ayo. kita mulai. jangan lagi bicara yang tak perlu. apa? kau hidup serampangan dalam kehidupan yang mudah, semena-mena dan menjadi tak berguna hanya lalu merengek karenanya? yang benar aja. dasar sinting! kalau kau tak bisa lakukan. aku tahu kau tak bisa. kembalikan ini semua padaku. menyalahkan ingatan yang buram? memangnya apa yang mau kau ingat? mau kau apakan kalau ingat? mengangis dan terpuruk, mengasihani diri? cih! mati saja sana. tapi, kawan. aku tahu. aku membencimu dan kau membenciku. tugas kita hanya satu. hidup dan segala hal di dalamnya. melakukan hal yang benar dengan cara yang benar. kita tak harus menjadi siapa-siapa dan memiliki apa-apa. hanya jadi manusia berguna yang tak merugikan saja. yang paling penting. jadi seorang hamba. lakukan yang bisa kau lakukan. bukan. ayo kita lakukan apa yang kita bisa. Jika kau sangat sensitif seperti ini gunakan perasaan tololmu untuk hakl yang berguna. bukan hanya mengasihani diri dan merengek. ubah ia menjadi empati untuk orang lain. dasar tolol. dan aku akan mencari cara untuk mengeluarkan kita dari sini. kau percaya saja. mungkin kita hanya perlu memahami kembali makna hidup dan kembali belajar. tapi jangan terlalu tinggal dalam kepala. di sini sumuk dan memuakkan meskipun terasa lebih aman dibandingkan dengan dunia luar sana. tapi, tidakkah bisa kau apresiasi hal-hal yang baik dalam hidup? jika tak bisa hidup untuk diri sendiri (ya, tentu saja tak ada alasan untuk itu) setidaknya hiduplah untuk jadi berguna.
17:26
Tue, 23 Jun 2026