Bukankah semakin tahu manusia harusnya semakin maju? Namun, faktanya tidak selalu demikian. Sebagian dari kita, terjebak dalam pengetahuan itu. Tenggelam dalam data-data dan pemahaman dangkal yang bersifat sementara. Ada perbedaan dari kebenaran hakiki dan sepotong pengetahuan yang merupakan bagian dari proses. Sesuatu yang kita lihat dengan lanskap terbatas. Sebatas sudut pandang dan pemahaman subjektif kita. Lalu kita mengamininya menjadi suatu kebenaran mutlak. Kita kira kita sudah cukup tahu untuk menjadi hakim atas takdir kita. Memilih menyerah sebelum benar-benar kalah. Sebuah keputusan egois yang kita lakukan untuk memenangkan kepengecutan dengan menyembelih mimpi.
Lalu, di kemudian hari, kita akan duduk merenung menyesali kepongahan serta kebodohan. Kejumawaan diri untuk mendahului takdir dengan dalih tak akan melakukan hal yang sia-sia, tanpa pernah benar-benar tahu mana yang sia-sia, mana yang berlandaskan topeng takut gagal atau keengganan meninggalkan zona nyaman. Berhenti sebelum mencoba.
Benar adanya pemahaman atas diri sendiri dan pemahaman atas dunia luar diperlukan untuk melihat garis singgung takdir dengan kacamata kebijaksanaan. Namun, di atas semua itu, ada hukum alam dan di atasnya lagi ada prerogatif Tuhan.
Pertanyaannya apakah semua itu sudah masuk dalam pertimbangan untuk memilih berjalan atau berhenti? Atau sudahkah engkau kerahkan usaha terbaik sebelum merengek dan menyuruk dalam kepecundangan diri yang tak mau sedikit menahan dan bertahan dalam kata juang?
Jumat, 29 Mei 2026
09: 18 WIB