Rabu, 20 Mei 2026

Tentang Mimpi

Mungkin di usia sekarang, bermimpi menjadi lebih sulit dibandingkan dengan ketika kita masih lugu dan tidak tahu banyak hal tentang dunia. Betapa paradoxial. Kita dengan mudahnya mencampakkan mimpi ke belakang punggung saat sudah mengenyam asam-garam, pahit-manis, pedas-hambar kehidupan. Ketika  sedikit lebih mengerti cara kerja dunia dan merasa tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapinya, kita tersurut. Ketakutan dan bersembunyi di balik kata realistis. Sedangkan saat masih kecil dan tak mengerti apapun, kita memiliki keberanian yang besar dalam bermimpi. Oh, benarlah kiranya kanak-kanak memiliki hati yang besar untuk tubuhnya yang kecil. Sementara orang dewasa semakin usia bertambah, semakin menciut hatinya. Memang tak bisa bicara atas dasar permukaan dan simplifikasi saja. Terkadang memang semakin tahu, semakin tak menggebu. Ada kebijaksaan di balik kepala dingin yang meredam gelora hati. Namun, tak jarang pula rasa insecure dan pesimistis yang dilumuri dengan being realistic dan nggak muluk-muluk memegang andil dalam kehidupan manusia 'dewasa'.


Bukankah semakin tahu manusia harusnya semakin maju? Namun, faktanya tidak selalu demikian. Sebagian dari kita, terjebak dalam pengetahuan itu. Tenggelam dalam data-data dan pemahaman dangkal yang bersifat sementara. Ada perbedaan dari kebenaran hakiki dan sepotong pengetahuan yang merupakan bagian dari proses. Sesuatu yang kita lihat dengan lanskap terbatas. Sebatas sudut pandang dan pemahaman subjektif kita. Lalu kita mengamininya menjadi suatu kebenaran mutlak. Kita kira kita sudah cukup tahu untuk menjadi hakim atas takdir kita. Memilih menyerah sebelum benar-benar kalah. Sebuah keputusan egois yang kita lakukan untuk memenangkan kepengecutan dengan menyembelih mimpi. 

Lalu, di kemudian hari, kita akan duduk merenung menyesali kepongahan serta kebodohan. Kejumawaan diri untuk mendahului takdir dengan dalih tak akan melakukan hal yang sia-sia, tanpa pernah benar-benar tahu mana yang sia-sia, mana yang berlandaskan topeng takut gagal atau keengganan meninggalkan zona nyaman. Berhenti sebelum mencoba. 

Benar adanya pemahaman atas diri sendiri dan pemahaman atas dunia luar diperlukan untuk melihat garis singgung takdir dengan kacamata kebijaksanaan. Namun, di atas semua itu, ada hukum alam dan di atasnya lagi ada prerogatif Tuhan. 

Pertanyaannya apakah semua itu sudah masuk dalam pertimbangan untuk memilih berjalan atau berhenti? Atau sudahkah engkau kerahkan usaha terbaik sebelum merengek dan menyuruk dalam kepecundangan diri yang tak mau sedikit menahan dan bertahan dalam kata juang?

Jumat, 29 Mei 2026
09: 18 WIB


Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...