Aku mulai terengah menjajari langkahnya. Lalu lalang kendaraan mengisi jeda panjang dalam percakapan kami.
“Lalu kau akan ke mana?” Akhirnya kata itu melompat juga dari mulutku. Hening. Sesaat kemudian, hanya deru kendaraan lagi yang terdengar. Sedang langkahnya semakin panjang saja.
“Akan ke mana kau?!” Suaraku lebih lantang dari yang kuharapkan. Melesat begitu saja dengan buncah yang tidak terjelaskan.
Akhirnya ia menoleh juga. ”Ke mana saja,” hanya itu yang ia katakan. Ia kembali melangkah.
“Apa maksudmu ke mana saja. Kalau kau tidak punya tujuan, tak bisakah kau tetap tinggal?” Ini pertama kalinya aku mendengar ketidakyakinan darinya.
”Tidak. Kau tau aku tak bisa begitu,” ucapnya lemah. Ia berhenti melangkah. Mengambil tempat di bangku jalan. Aku turut duduk di sisinya. Merasa bersyukur ia memilih berhenti sebab napasku mulai tersengal.