Oleh: S. N. Aisyah
Jarum jam berdentang. Ya, berdentang. Suaranya menggema di gendang telingaku. Jantungku bedenyut kuat. Seperti digengam erat dalam kepalan tangan yang semakin lama, semakin meremukkannya. Mendorong aliran darah ke tengkuk, terus kedalam tengkorak. Kepalaku sepertinya akan meledak. Setiap garis tampak berbayang. Aku tak mau mati di sini.