Kamis, 04 September 2025

Fiksi Mini: Padam

Oleh: S. N. Aisyah


Dahulu, aku sangat benci ketika listrik padam. Apalagi di masa liburan semester sekolah. Susahnya tinggal di pelosok desa, ya, seperti itu. Mengapa  kota besar atau pusat pemerintahan dapat asupan listrik dua puluh empat jam sedangkan kami mesti mengantri giliran pemadaman listrik empat jam (sekali hingga dua kali) dalam sehari? Jika melihat pada tempat yang belum mendapatkan listrik, tentu saja aku bersyukur, tetapi itu lagi masalahnya kan? Apa bedanya hak kami dengan kota besar atau pusat pemerintahan daerah? Apakah sebab kebutuhan listrik kami tak begitu banyak makanya sering dipadamkan untuk penghematan? Bukankah lebih logis jika penghematan dilakukan pada wilayah yang banyak menggunakan listrik? Apa karena faktor keberlangsungan perekonomian? Apapun itu, seorang bocah SMP pinggiran sepertiku hanya ingin menonton film box office di liburan sekolah. Di Tv analog, tentu saja.

Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...