Sabtu, 18 Juli 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. TUJUH)

Jikalah teori psychology tentang introverted dan ekstroverted itu benar, bisa jadi sejak lahir aku seorang introvert sejati. Semasa kecil, sepulang sekolah atau berpergian, bermain, bersosialisasi, aku kerap tidur. hingga senja menjelang. meskipun sering sekali dilarang tidur sore, namun, hal ini tak terelakan bagiku. Namun, beranjak dewasa, tidur sudah tidak menjadi semudah itu lagi. proses adaptasi ini ... apa bisa dikatakan begitu? anyways. 

baru saja nonton podcast raditya dika bersama gita sav dan paul. dulu mengikuti mereka dan ada hal-hal yang saya kagumi dari pasangan ini tetapi juga berbeda pendapat di beberapa bagian. itu hal lumrah saja. menonton ini mengingatkan saya pada bagaimana menyenangkannya belajar dan mengejar sesuatu yang kita passionate about. saya merasa sangat kosong sekarang. kepala saya. bukankah akan sangat menyenangkan kalo kita mengisinya kembali? saya teringat pasangan lainnya, mantan rekan kerja dulu, sekarang mereka keliling dunia berdua, sangat cute, cool, dan inspiring. wah sangat hebat dan masyaallah. barakallah fikum untuk mereka semua. oh, btw, mantan rekan ini seperti gita, master atau doktor di bidang kimia murni di korea  dan terakhir yang saya tahu bekerja juga di sana. yang paling menyenangkan adalah melihat manusia bertumbuh bersama seperti pasangan-pasangan ini. barakallah fii kum. 

Senin, 13 Juli 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. ENAM)

Aku mulai berpikir, bagaimana jika sesuatu itu sudah digariskan untukku tetapi tak aku dapatkan karena aku tak datang menjemputnya? Bagaimana jika, sebuah kursi sudah direservasi atas namaku, tapi tak terisi karena aku tidak datang mengisinya? 

Apakah mengusahakan sesuatu seolah kita sudah ditakdirkan untuk hal itu adalah tindakan yang tepat? Bagaimana jika nanti, ternyata anggapan itu salah. Bagaimana jika kita mengerahkan segala upaya untuk hadir namun, nama yang tertera adalah milik orang lain? 

Seperti yang sudah-sudah. Seperti yang lalu-lalu. Meskipun sesuatu itu sesuai logika dan kebiasaan umumnya merupakan peluang, tiba-tiba saja, kita ditinggalkan begitu saja. Seperti yang sudah-sudah. Tentu saja ini bentuk kepengecutan. Benar. Tapi, hal ini bisa jadi benar. Aku ... Serangan cemas dan panikku datang lagi. Sudah dulu. 

Tidak. Harusnya kulawan. Belakangan ini, aku sangat kacau. Eh, ini pernyataan gamblang yang sangat menggelikan. Aku sangat cemas. Bagaimana ini? 

Oke. Berpikir. Berpikir. Oh, sudah dua kali mengikuti webinar via zoom meeting. Dan di keduanya aku melakukan kesalahan. Ini semakin membuatku kikuk dan malu dalam bersosialisasi. Meskipun, aku tahu tak ada yang peduli. Aku hanya malu pada diri sendiri. Benar-benar. Aku ... Sangat. Aku kehilangan kemampuan bersosialisasi dengan normal. Atau mungkin aku memang tak pernah punya hal semacam itu. 

Sejujurnya aku selalu melakukan kesalahan di kegiatan sosial seperti ini. Sangat kikuk. Dulu, aku tak ambil pusing. Sekarang ini rasanya bisa menelanku. Aku harap ia dapat menelanku. 

Ikut webinar NLP kemarin. Katanya conscious mind hanya berperan sebanyak 5 % dalam keseharian kita, sedangkan lebihnya sebanyak 95% adalah unconscious mind kita. Nah, segala macam habit dan lainnya, itu berperan besar. Ini tertanam jauh dalam diri kita. 95% itu adalah memories dan segala hal lainnya yang di luar kendali alam sadar kita. Seperti trauma respon dan refleks spontan yang kita miliki terhadap suatu hal. Untuk mengubah hal ini, yang diperlukan adalah dengan menata atau mematangkan 5% conscious mind kita setiap kali, secara berulang hingga keputusan-keputusan sadar ini menjelma menjadi unconscious mind kita. Nah, begitulah caranya. Aku hanya perlu menjadi sadar setiap saat. Melatih diri secara disiplin. Memilih secara sadar dan mengeksekusinya dengan sadar. Begitulah. 

15. 53 WIB
Senin, 13 Juli 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. LIMA)

Sudah berkali-kali kukatakan pada diri sendiri untuk tidak seperti ini. Hari ini, aku menulis saat bekerja sendirian. Sedang sepi pelanggan. Harus kuakui, aku mengalami serangan panik dan cemas saat harus berjaga sendiri seperti ini. Interaksi dengan manusia, entah mengapa sangat menakutkan bagiku. Tapi, meskipun begitu, aku harus melawan semua rasa ini. Aku tak tahu darimana munculnya rasa khawatir berlebihan ini. Aku benar-benar cemas sekarang. Tapi ini semua akan baik-baik saja, kan? Seperti sebelumnya. Pasti ada sesuatu yang salah denganku. 

Baru saja menyadari satu hal. Ternyata menulis seperti ini mungkin seribu kali lebih baik daripada bercerita pada orang lain tentang pikiran burukku. Selagi tak ada yang membacanya. Aku sangat amat tak berniat untuk menyebarkan energi negatif, sungguh. Aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam kepalaku. Tak ada maksud apapun. Tetapi, baru saja membaca tulisan tentang seseorang yang membahas tentang orang yg seperti diriku, selalu menilai diri sendiri dengan buruk. Dan sudut pandangnya tentang ini sangat mengejutkanku. Tak tahu kalau orang akan berpikir begitu. Pantas saja, selama ini orang-orang sangat letih bicara denganku. Maksudku, aku tahu mereka letih. Tapi, aku tak menyangka bahwa orang berpikir bahwa "self deprecating" itu untuk mencari validasi agar orang memberikan self assurance dan benar-benar membuat orang seterganggu itu. Sama sekali tak berpikir begitu. 

Mungkin memang lebih baik tak pernah mengungkapkan apapun, ya.  Maksudku, aku tak tahu kalau itu akan begitu mengganggu bahkan merusak orang lain. 

Aku benar-benar ingin tinggal sendiri jauh dari siapapun. Rasa-rasanya apapun yang kulakukan salah semua. Tak tahu perasaan ini datang darimana. Semua hal terasa mengerikan sekarang. 

CATATAN SI SENJA GILA (BAG.EMPAT)

Baru saja ikut sebuah webinar online yang sangat bagus dari NNL. it made me think a lot. about things. my capacity that i might have in me. what can i offer if i want to sharing and maybe even get side hustle. i have some thought about it. and trying to figure it out is one thing that i do over and over again. 

mungkin waktu pencarian telah habis. sebaiknya sekarang aku memilih, menetapkan apa yang ingin aku lakukan dan ingin aku kejar. bukan finding myself anymore but building it. instead of living it in my ownd head, i should do things about it. mungkin saja selama ini pencarian hanyalah alasan yang kugunakan untuk menyembunyikan kepengecutanku. 

27 Juni 2026

Jumat, 26 Juni 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. TIGA)

 Ada suatu pemahaman yang sedikit ganjil dalam diriku. bahwa aku tak boleh menangis. bagiku menangis itu lemah, namun, tidak demikian jika orang lain yang menangis. entah mengapa aku memiliki standar ganda atas hal-hal antara diriku dan orang lain. apakah ini yang dinamakan self critics berlebihan? entahlah. 

Jadi, menurutku menangisi hidup sendiri merupakan sebuah ketidakpatutan. Sebisa mungkin itu kuhindari. Karena, sesungguhnya aku tak melihat ada alasan untuk menangisis dan mengasihani diri sendiri. itu terasa aenh dan ganjil. Tetapi meskipun begitu aku adalah orang yang amat cengeng. Katakanlah terlalu sensitif. ya. setidaknya begitulah yang kutahu. sepertinya ada jarak yang amat dalam dan jauh antara bagaimana aku menetapkan standar dan kemampuan untuk memenuhinya. pada titik ini aku merasa seperti kalakatu.

Meskipun begitu aku ingin mencoba. sudah bertahun-tahun--bisa dikatakan seumur hidup--aku menjalani omong kosong. aku punya cita-cita. ya, benar. begitulah seharusnya. dan aku masih menyimpan sebongkah kecil baranya dalam saku. mungkin itulah yang membuatku sedikit meringis namun tak jua bergerak untuk membebaskannya menjadi api. 

Apakah aku takut terhadapnya, entahlah, aku lebih takut atas ketidakmamuanku dalam berbaur dengan manusia dan zamannya. entah mengapa demikian. padahal dahulu sering kulakukan hal bodoh dan mengorbankan rasa malu hanya untuk mencoba dan mencari tahu batasku. satu prinsip yang menguatkan aku ketika itu adalah, 'setiap hal memiliki fase pertama kali'. untuk itulah aku  maju. dengan keluguan atau lebih tepatnya kedunguan. setelah melewati banyak hal, dalam hidup yang dangkal dan serba tanggung ini, aku mulai mengerti bagaimana ketulusan, tekad, usaha, jujur,  dan niat lururs tanpa agenda tersembunyi tak akan pernah cukup. dan kesalahan fatalku, diseret arus krisis itu. 

meskipun dengan sadar mengetahui bahwa nilai kita tidak bergantung pada penilaian orang lain terhadap kita (sebab yang mereka tahu hanyalah bagian dari serpihan diri kita. ) tapi tak bisa kuelak betapa hal itu mempengaruhi cara pandang dan rasa percayaku untuk menjalani hidup seperti sebelumnya. saat slogan 'selalu ada kali pertma' dan slogan 'belajar dari kesalahan' masih menjadi  bahan bakarku untuk melangkah (bahkan pada hal yang nekad sekalipun).

ya. ini hanya mencari alasan dan bentuk kedunguan lainnya. aku akui itu. pengecut dalam diriku mencari pembenaran atas  pelariannya. atas ketidakbecusannya memecahkan masalah. seolah segala hal yang pernah kupelajari, semua hal yang kubaca tak ada artinya. apakah aku hidup dalam lelucon dan kebohongan tengik yang sama sekali tak lucu. atau mungkin ini sangat lucu dan konyol. sangat konyol dan dungu. entahlah. aku bahka tak punya kosakata yang baik untuk mencurahkan pikiranku sendiri. betapa dangkal dan tak berisinya kepalaku.

berkali-kali kukatakan untuk tak mengeluh seperti ini. terus saja kulakukan. habit memang sangat berbahaya. Dr. Julie Smith sepertinya pernah mengatakan suatu hal seperti 'bahwa otak kita akan merespon dengan jalur yang ia ketahui. tentu sja bukan seperti itu penjelasan Dr. Smith. intinya, otak ita belajar dengan repetisi. semakin sering kita ulangi sesuatu, semakin mahir dan kuat ia tertanam dalam benak kita. begitulah, kau sudah menegrti maksudku, kan? kabar baiknya, kita dapat menulis ulang jalur yang telah dipetakan oleh otak, tinggalkan repitisi hal buruk. ganti dengan hal baik. perlu usaha memang. aku juga ingin mencobanya. sayangnya aku tak tahu harus dengan apa diganti obrolan negatif ini. tak ada kebaikan yang dpaat kutemui dalam diriku. tapi, aku di sini untuk menjadi lebih baik. jadi bair kuralat. aku BELUM menenukan hal baik dalam diriku yang dapat menulis ulang vitrin-vitrin dalam lorong-lorong jaringan yang telah terbangun dalam otakku selama ini. 

maka daripada itu, aku akan menuliskannya saja. oh, kukatakan aku pernah punya mimpi. dan sempat mengejarnya. tetapi kandas. namun, mungkin aku hanya tak berusaha untuk memilikinya. bahkan minus effort? Jadi, aku tak berhak mengeluh atas hal tersebut. mimpi itu, cita-cita itu, bagaimana aku akan menempatkannya sekarang. apa karus kukejar lagi atau kumasukkan dalam tong sampah saja? tahu apa cita-cita yang kumaksudkan? tapi, omomg-omong tentang membuangnya, aku jadi ingat seseorang oernah berkata untuk tak membunuh suatu ide hingga ia mendapatkan audiens yang tepat. kira-kira sperti itulah kata jiwa berkilau itu (allahuma barik). dia benar. sebaiknya tak kubuang dulu. 

ya, begitu saja. sudah dulu. besok kutemui kau lagi.


02:05 WIB

26 Juni 2026



Selasa, 23 Juni 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. DUA)

Sepertinya aku salah mengartikan membosankan. Hidup membosankan, nyaman, dan aman itu bukan hal yang buruk. Yang menjadikannya seperti penjara adalah stuck atau mandek. Kau bisa hidup dengan bosan, nyaman, dan aman tapi terus berkembang. Hidup tak melulu harus menarik dan sensasional. Yah, sedari sekolah aku selalu berpikir,"hidup tak hanya untuk bersenang-senang". memang begitulah adanya. 

Belakangan ini aku menulis di beberapa tempat secara random dan berantakan. seperti isi kepalaku. terlalu banyak diisi sampah atau tak ada isinya sama sekali. ya, kepalaku. Tapi, aku di sini bukan untuk bemuram durja. Ke-random-an ini membuatku ingat akan buku Stolen Focus karya  Johann Hari. sebelumnya aku harus sampaikan rasa terima kasih pada jiwa berkilau yang  menyarankan buku ini. dari dulu tak pernah begitu menganggap penting tidur meskipun aku dulunya seorang tukang tidur yang parah. lalu, seperti sudah menghabiskan tiket tidur, kini tidur seperti es krim terakhir yang kau jatuhkan. 

sudah kukatakan tidur tak pernah menjadi perhatian dalam hidupku, kan? begitu menginjak bangku kuliah, aku adalah orang yang berpikiran andai saja kita bisa hidup tanpa tidur. memasuki dunia kerja, otakku diracuni dengan pemikiran bahwa tidur empat jam sehari saja sudah cukup. ketika masih memiliki pemikiran itu aku baik-baik saja. 

hingga entah sejak kapan, rasanya hidup sangat aneh. begitu pula tidurku jadi sangat berantakan. ada periode aku hanya tidur dua jam sehari dan hari berikutnya tidur hingga lima belas jam (atau lebih). rata-rata tidur harian 3-4 jam, tidur lima jam adalah tidur yang paling mendekati normal. ya, masa-masa yang mengherankan. meskipun sekacau itu, aku menganngap hal ini biasa dan menginginkan tidur adalah manja. hingga akhirnya membaca buku ini. 

Aku tak pernah begitu menginginkan tidur seperti sekarang. oke, memang beberapa waktu belakangan ini, (enam bulan atau lebih?) aku menginginkan tidur, namun, buku ini membuat tidur tiga kali lipat lebih kurindukan. seperti merindukan 'your book' setelah membaca ribuan buku yang meskipun bagus tak dapat memikat jiwamu. seperti itulah pandanganku terhadap tidur saat ini. meskipun begitu, entah mengapa aku tidak juga mendapatkannya. entahlah. 

hal-hal sederhana dan membosankan seperti tidur adalah hal yang kuinginkan dalam hidup. mengejar spark semata, rasanya sangat tidak cocok, ya, aku menyukai hal-hal yang menngguncang jiwa untuk merasakan hidup, memantik pemikiran untuk menyala, menyentuh hati dan meneguhkannya. tetapi bukan hanya dalam kekacauan, meskipun aku dapat dikatakan orang yang kacau? ah, tidak. aku hanyalah orang biasa yang membosankan. intinya, aku ingin semua hal apakah itu bosan atau 'spark'. semuanya dalam kedamaian dan ketenangan. Apa itu masuk akal? Ah, masuk akal? akal siapa? 

just don't let your focus stolen. can you?

besok kutemui kau lagi. 

00: 44
Wed, 24 Jun 2026

CATATAN SI SENJA GILA (BAG. SATU)

 Hei. Aku tahu ini memuakkan untuk didengar. Bahkan tak layak untuk diumbar. Tapi, aku akan tuliskan saja. 


Silakan di-skip, karena tulisan ini akan menambah beban dan melelahkan. 


Aku menuliskannya untukku. Dan menyimpannya di dinding ini. Memampangnya. Bukan untuk dikasihani. Tapi untuk mempermalukan diri dan memakinya nanti. 


Aku telah membakar jembatan yang menghubungkanku dengan masa lalu. Dalam keegoisan dan keangkuhanku, mengira itu jalan terbaik dan tercerdas. Aku tak membutuhkannya, masa lalu. Seperti kucing yang sekarat, menyendiri sudah jadi mode default. 


Ingatanku sedari dulu sudah kabur, tapi sekarang, juga diliputi asap-asap pembakaran itu. Aku tak dapat melihat lagi kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang hadir di masa lalu. Atau benarkah kebahagiaan itu ada? 


Hidupku baik-baik saja. Tetapi juga tidak. Suatu hari, aku bertanya, bagaimana mungkin hidup orang lain begitu menarik, sedangkan nyaris tak ada yang terjadi dalam hidupku. 


Tak ada bencana, tak ada pencapaian. Hidup adalah tanah datar yang luas. Amat luas, gundul dan gersang. Tak ada  kebahagiaan, juga tak ada penderitaan. 


Tidak, aku tak meminta penderitaan. Aku juga tak tahu pengertian bahagia dan cara mengidentifikasinya.  Mungkin aku hanya seorang hamba tolol angkuh yang tidak pandai bersyukur. Ya, pasti begitu. 


Dulunya begitu. Tak ada kesenangan, kebahagiaan dan tak ada pula kesengsaraan dan penderitaan. Apakah aku memiliki mimpi-mimpi? Kupikir begitu. Namun, lebih jauh lagi, aku mnegtahui apa yang ada dalam diriku. Kebusukan yang selalu kutatap lamat-lamat dalam gelap, yang tak ingin kubagikan pada siapapun.


Aku menyampaikannya. mengatakan bahwa hidupku datar-datar saja. Nyaris tak ada yang terjadi. Tak ada ledakan emosi, kejadian-kejadian yang mengherankan, menakutkan, membahagiakan, atau apa pun itu yabg dapat kuingat dan kubagikan sebagai sebuah kisah, sebuah sejarah dalam hidup. Tidak. Aku tidak meminta bencana dalam hidupku. Aku bersyukur hidupku baik-baik saja. Aku selalu saja tercengang mendengar kisah hidup orang yang menakjubkan dalam artian baik  atau tidak menguntungkan. 


Sudah kukatakan hidupku sangat membosankan.  Bukan karena hidup yang membosankan. Tetapi akulah yang menjadikannya begitu. Itu satu-satunya kebenaran dalam hal ini. 


Hidup membosankan, nyaman, dan aman seharusnya bukanlah masalah. Tapi ini jadi masalah saat bahkan dalam hidup yang sangat aman ini sekalipun aku menjadi pesakitan sinting. kurasa ada sesuatu yang salah denganku. tapi, aku tak tahu apa. Ada kebenciann yang mendalam pada diriku. Kebusukan yang tak dapat kucintai meskipun dapat kuterima. Ya, omong kosong gila, tetapi itulah nyatanya. Tidak, aku tidak ingin menjadikan hal ii sebagai pembenaran. bahwa beginilah diriku. Tak dapat diperbaiki. Bukan begitu. Hanya saja, aku tahu, seberapa keras pun aku berusaha, aku tak akan pernah dapat diperbaiki., tidak akan pernah pantas. 


Sialan. Aku mulai mengumpat lagi. Jika diingat-ingat dengan ingatan yang tak seberapa ini, aku tahu bahwa emosi yang kukenal dengan baik adalah amarah dan kesedihan. Sedih. sangat menjiikan. rasanya aku membesar-besarkan ini semua dan menjadi berlebihan atas segala hal. Aku selalu berlebihan. Aku membenci dirku namun lebih suka bersamanya dibandingkan menjadi amat sendirian ketika bersama orang lain. Bukan, Aku tidak membenci orang yang lain. Aku tahu seberapa buruk dan lebaynya diriku. maka setiap kali bersama orang lain, aku tak ingin merepotkan dan menjadi beban untuk mereka. Aku tahu aku hanya akan membawa masalah. bagaimanapun itu. Sepertinya tak ada yang dapat kulakukan selain menciptakan banyak masalaha atau hanya menjadi beban. 


berusaha. bajingan tengik ini banyak omong. dengarkan. hey, kau apa kau mendengarkan? kau bajingan tengik yang tak berguna. cobalah lakukan sesuatu di hidupmu tanpa merepotkan orang lain. bisa tidak? oh, sialan. mengapa masih hidup? Tidak ini hal yang salah. sangat salah. aku tidak boleh begini. berlaku berlebihan seperti ini. apa yang kuinginkan dalam hidup? apakah berhak menginginkan sesuatu? 


Sudah banyak kulihat pengorbanan dan penderitaan orang lain untukku dan itu sungguh tidak perlu. rasa-rasanya aku mau mati saja seperti pengecut. tapi jika begitu apa aku akan menyakiti orang-orang di sekitarku? tentu saja aku gak punya kendali atas itu. dunia hanya akan kehilangan seonggok sampah lainnya. Aku tak ingin seperti ini, sungguh. aku juga ingin berkata dan mendengar tanpa perlu merasa surut. Sepupuku pernah bilang, yang penting itu mental. Dia benar. mengapa ia pergi begitu cepat. Sialan aku jadi ingat diajari gitar olehnya. bernyanyi di lorong dapur. Kadang-kadang, kalau selera lagunya diputar oleh entah siapa saja melalui apa saja, aku sering mengingatnya. 

Sepupuku satu lagi juga baru saja pergi. terakhir bertemu mungkin dua tahun lalu, kami bicara banyak tentang buku. dan aku benar-benar ingin mengajaknya ke pustaka jika ia berkunjung ke sini. sekarang itu hanya jadi bagian omong kosongku yang lainnya. aku juga tak datang ke pemakaman kawan SMA-ku. bajingan sekali. 


Sangat tak suka ketika aku menginginkan sesuatu, letih sekali. aku mau istirahat dari dirriku. apa bisa? meninggalkannya sendirian. tapi, jika begitu, ia tak akan pernah bisa diterima. Ia akan selalu sendirian seperti Si Makhluk yang dibuat oleh Frankenstein. Jadi aku akan menerimanya, bagaimanapun juga. Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padanya.


Aku ini kenapa? Andai saja aku bisa menelusuri asal-usul penyakit sintingku ini. sayangnya tak banyak yang aku ingat untuk dapat menjawabnya. aku ingat banyak hal dari masa lalu tentang orang-orang. Tapi sulit sekali mengingat diri sendiri. 


Apa-apaan tulisn lemah dan cengeng ini. menjijikan. aku akan kembali dan akan muntah dihadapanmu nanti. sial. Ini tidak baik. aku mulai mengumpat lagi. sudah lama kutinggalkan hal itu. aku tak pernah nyaman berkata kasar kepada orang lain dan keadaan. itu tidak patut. tetapi untukku sendiri rasanya tak apa-apa. ini tak seperti menyakiti siapapun. Aku hanya mengatakan hal yang sesungguhnya. 


Ya, satu-satunya pemghubungku dengan masa lalu adalah orang-orang yang tak lagi kutemui. atau masih kutemui tapi kami tak pernah benar-benar bicara lagi. bicara tak ada artinya. aku mengerti betapa melelahkan bicara denganku tentangku. seperti mengurai sampah. sungguh aku tak pernah menyalahkan siapaun. dan aku tak merajuk atau marah atau tersinggung aku hanya mengerti lalu itu juga semuanyaa menjadi salah. entahlah bagaimana cara menyampaikan dengan benar. oh, terllu negatif dan playing victim, ya? aku tak menyalahkan siapapun aku hanya berlebihan. hal yang tak baik dan aku tak tahu bagaiaman caranya agar menjadi normal. kurasa itu hanya bukan untukku. mungkin ini yang dinamakan terlalu sensi. entahlah. apa pun. label saja apa pun . tak akan ada bedanya. kebenaran adlah kebenaran. aku tak dapat melarikan diri dari realita. dan tak akan.


Aku hanya ingin melakukan hal yang benar dengan benar. meskipun aku hanya sampah aku masih ingin berguna. Aku tak punya apapun dan itu tak masalah. tak pernah menjadi seorang yang baik tapi tuhan selalu baik padaku. ia menitipkan banyak hal baik dan orang-orang baik di hidupku. tapi mengapa aku masih seperti ini? aku tak mengeluh. aku hanya ingin tahu megapa aku jadi begini. tak ada satu kebaikanpun dalam diriku yang bisa membuatku menyayanginya. aku tahu segala kebusukannya. aku tahu kebusukanmu. bagaimana mungkin aku bisa menyukaimu? 


bisakah sekali saja kita berguna? melakukan sesuatu dengan benar dan buang semua hal menjijikan dalam dirimu itu? lebay, drama, cari perhatian? jijik.


aku di sini bukan untuk merengek. jadi, kalau mau buang waktu untuk itu, segera mampuslah. ayo. kita mulai. jangan lagi bicara yang tak perlu. apa? kau hidup serampangan dalam kehidupan yang mudah, semena-mena dan menjadi tak berguna hanya lalu merengek karenanya? yang benar aja. dasar sinting! kalau kau tak bisa lakukan. aku tahu kau tak bisa. kembalikan ini semua padaku. menyalahkan ingatan yang buram? memangnya apa yang mau kau ingat? mau kau apakan kalau ingat? mengangis dan terpuruk, mengasihani diri? cih! mati saja sana. tapi, kawan. aku tahu. aku membencimu dan kau membenciku. tugas kita hanya satu. hidup dan segala hal di dalamnya. melakukan hal yang benar dengan cara yang benar. kita tak harus menjadi siapa-siapa dan memiliki apa-apa. hanya jadi manusia berguna yang tak merugikan saja. yang paling penting. jadi seorang hamba. lakukan yang bisa kau lakukan. bukan. ayo kita lakukan apa yang kita bisa. Jika kau sangat sensitif seperti ini gunakan perasaan tololmu untuk hakl yang berguna. bukan hanya mengasihani diri dan merengek. ubah ia menjadi empati untuk orang lain. dasar tolol. dan  aku akan mencari cara untuk mengeluarkan kita dari sini. kau percaya saja. mungkin kita hanya perlu memahami kembali makna hidup dan kembali belajar. tapi jangan terlalu tinggal dalam kepala. di sini sumuk dan memuakkan meskipun terasa lebih aman dibandingkan dengan dunia luar sana. tapi, tidakkah bisa kau apresiasi hal-hal yang baik dalam hidup? jika tak bisa hidup untuk diri sendiri (ya, tentu saja tak ada alasan untuk itu) setidaknya hiduplah untuk jadi berguna. 


17:26

Tue, 23 Jun 2026


Rabu, 20 Mei 2026

Tentang Mimpi

Mungkin di usia sekarang, bermimpi menjadi lebih sulit dibandingkan dengan ketika kita masih lugu dan tidak tahu banyak hal tentang dunia. Betapa paradoxial. Kita dengan mudahnya mencampakkan mimpi ke belakang punggung saat sudah mengenyam asam-garam, pahit-manis, pedas-hambar kehidupan. Ketika  sedikit lebih mengerti cara kerja dunia dan merasa tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghadapinya, kita tersurut. Ketakutan dan bersembunyi di balik kata realistis. Sedangkan saat masih kecil dan tak mengerti apapun, kita memiliki keberanian yang besar dalam bermimpi. Oh, benarlah kiranya kanak-kanak memiliki hati yang besar untuk tubuhnya yang kecil. Sementara orang dewasa semakin usia bertambah, semakin menciut hatinya. Memang tak bisa bicara atas dasar permukaan dan simplifikasi saja. Terkadang memang semakin tahu, semakin tak menggebu. Ada kebijaksaan di balik kepala dingin yang meredam gelora hati. Namun, tak jarang pula rasa insecure dan pesimistis yang dilumuri dengan being realistic dan nggak muluk-muluk memegang andil dalam kehidupan manusia 'dewasa'.


Bukankah semakin tahu manusia harusnya semakin maju? Namun, faktanya tidak selalu demikian. Sebagian dari kita, terjebak dalam pengetahuan itu. Tenggelam dalam data-data dan pemahaman dangkal yang bersifat sementara. Ada perbedaan dari kebenaran hakiki dan sepotong pengetahuan yang merupakan bagian dari proses. Sesuatu yang kita lihat dengan lanskap terbatas. Sebatas sudut pandang dan pemahaman subjektif kita. Lalu kita mengamininya menjadi suatu kebenaran mutlak. Kita kira kita sudah cukup tahu untuk menjadi hakim atas takdir kita. Memilih menyerah sebelum benar-benar kalah. Sebuah keputusan egois yang kita lakukan untuk memenangkan kepengecutan dengan menyembelih mimpi. 

Lalu, di kemudian hari, kita akan duduk merenung menyesali kepongahan serta kebodohan. Kejumawaan diri untuk mendahului takdir dengan dalih tak akan melakukan hal yang sia-sia, tanpa pernah benar-benar tahu mana yang sia-sia, mana yang berlandaskan topeng takut gagal atau keengganan meninggalkan zona nyaman. Berhenti sebelum mencoba. 

Benar adanya pemahaman atas diri sendiri dan pemahaman atas dunia luar diperlukan untuk melihat garis singgung takdir dengan kacamata kebijaksanaan. Namun, di atas semua itu, ada hukum alam dan di atasnya lagi ada prerogatif Tuhan. 

Pertanyaannya apakah semua itu sudah masuk dalam pertimbangan untuk memilih berjalan atau berhenti? Atau sudahkah engkau kerahkan usaha terbaik sebelum merengek dan menyuruk dalam kepecundangan diri yang tak mau sedikit menahan dan bertahan dalam kata juang?

Jumat, 29 Mei 2026
09: 18 WIB


Minggu, 26 April 2026

What Does Baking Taught Me

Ramadhan kemarin belajar baking di rumah dengan adik. Coba buat sugar palm cheese cookies dan kue kering sumprit. Pertama kali benar-benar pay attention di permasalahan baking. Dulu, biasanya hanya akan melakukan apapun yang diminta tanpa benar-benar memperhatikan. Bisa dikatakan baking dan memasak bukanlah passion saya. Bagi saya, makanan adalah makanan. makan hanya sekadar makan. Untuk bertahan hidup. Mungkin cita rasa atau selera saya adalah yang terburuk yang pernah ada. Sebab, tak mengerti sama sekali rasa dari makanan. Saya hanya akan melahap makanan selagi ia masih edible dan halal tentunya. 

Pada saat itu, saya benar-benar kehilangan semangat atas hal-hal dan Ramadhan selalu saja membawa suatu kebaikan yang tak bisa saya jelaskan. Mungkin inilah yang dimaksud dengan berkah Ramadhan. Jadi, saat adik saya mengatakan hendak membuat kue, tiba-tiba saja saya minta diajari dari awal. And she was very welcome about it. Lucky me, to have her, right? Alhamdulillah. 

Anyway. Selama belajar baking dengan paying attention, ada beberapa hal yang akhirnya saya sadari:

1. Proses membuat makanan itu, akan sangat menyenangkan jika kita mengerti apa yang sedang kita kerjakan, nggak cuma tunggu intruksi. Meskipun sekadar jadi asisten koki, kalau kita pay attention, semua hal akan menjadi menarik. Dan saya yakin ini tak hanya berlaku untuk baking, tapi untuk setiap hal. Uou start to pay attention when you're interested or YOU CAN PAY ATTENION to MAKE THINGS INTERESTING. 

2. Pertama kali coba menakar, mengadon, mencetak sampai memanggang dalam oven sendiri dengan paying attention, membuat saya mengerti mengapa orang-orang yang suka masak mencintai memasak dan masakan mereka. The feelings grow within the care. Perasaan itu dapat tumbuh dengan perhatian. Dan untuk membuatnya tetap ada, perlu dirawat. Hadir di setiap prosesnya dengan tulus. 

3.  You have to make sure, just in case something is going wrong. Jadi, kalau mengikuti intruksi, suhu dan durasi api yang digunakan oleh panduan ternyata nggak cocok di oven rumah atau mungkin adonan dan cetakannya yang kurang sesuai. Percobaan pertama rada gosong. it's a little bit too brown than it supposed to be. 

4. Sabar dan persisten. Well, nggak perlu penjelasan lebih lanjut.

5. Do it with love. Selama ini saya memasak hanya teknikal. Itu juga tekniknya nggak bagus. Jadi, ya ... begitulah. Kakak saya bilang, kekurangan dari masakan saya itu kurang cinta. Mungkin itu benar, karena jujur memasak hingga saat itu bukanlah hal yang saya nikmati, saya melakukannya karena itu salah satu cara bertahan hidup dan kita memerlukannya. Sejak belajar baking dan ngelihat hasil cetakannya yang lumayan dari hasil itu dan bocil-bocil bilang enak (entah iya atau enggak), itu menghasilkan perasaan yang berbeda. Senang? entahlah.

Jadi, belakangan, sesuatu berubah. Tiba-tiba saja, suatu hari saya makan dan hampir menangis karena rasanya. Entah karena memang enak atau karena ada sesuatu yang salah dengan diri saya waktu itu. Saya bahkan tidak ingat makanan apa yang membuat saya hampir menangis saat itu. Lalu, ada juga saat-saat di mana saya sangat kagum dengan rasa masakan yang biasanya saya tak begitu notice. Ada kalanya saya mulai membandingkan rasa masakan,  dan juga sedikit keecewa dengan rasa yang menurut saya terlalu asin (tetap dihabiskan, kok). Perubahan-perubahan ini membuat saya sedikit terkejut. Anehnya, saya sebelumnya tak pernah terlalu memusingkan soal rasa makanan. Maksudnya, selagi masih edible saya makan. Tidak terlalu picky kecuali untuk beberapa hal yang memang tidak bisa saya konsumsi (urgensi), bukan sekadar tidak suka. Saya makan tanpa protes ataupun (belakangan baru sadar juga tanpa menikmatinya), sebab bergitulah cara saya menghargai dan bersyukur atasnya. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa menikmati rasa makanan juga bentuk syukur atas nikmat dan karunia dari Tuhan. Serta bentuk penghargaan kepada orang yang telah membuat dan menyajikannya. Kini sudut pandang mekanikal saya dalam perkara makanan dan memasak diketuk palu kecil kue sumprit dan sugar palm cheese cookies yang hanya sebesar kue cubit. But I still want to able appreciate food no matter what and how it taste. Only add that it's good if you can differentiate the taste and enjoy it. 


Minggu, 26 April 2026

09 : 15 WIB

Kamis, 23 April 2026

Racauan (Lagi)

Sudah membuka laman ini sejak keamrin malam, akan tetapi belum tahu juga apa yang mesti dituliskan. Sudah sangat lama sejak menulis rutin itu, sejak tak melakukannya lagi, rasanya mulai kehilangan sesuatu. Di suatu hari, seorang teman pernah bilang, kemampuan itu kalau tak diasah nanti jadi tumpul. katanya, kalau kita menyia-nyiakan bakat yang diberikan Tuhan, nanti akan diambil dari kita. Sebuah insight yang sangat bagus. Sayangnya, saya tak punya bakat, tapi bisa jadi kebiasaan, skill (meski tak begitu bagus), niat, dan bahkan semua hal juga demikian. Jika tak dirawat, tak dijaga, bisa saja kita kehilangannya. Sebab, kita tak lagi pantas memilikinya. Dengan kata lain, Tuhan ambil sebab kita menyia-nyiakannya. Entah di mana si kawan itu sekarang. 

Ada banyak yang ingin dituliskan, tetapi di saat yang sama seperti tak ada hal yang bisa dituliskan. Mungkin karena bahkan dalam kesendirian paling gelap pun terkadang manusia takut akan kejujuran. Takut melihat bayangan dirinya yang penuh borok dan tak sebagus apa yang ia tunjukkan dan perdengarkan. 

Belakangan, saya sangat insecure. Betapa banyaknya wanita yang berdaya dan kuat, merantau sendirian, menghasilkan uang dan membiayai hidupnya sendiri, berani melakukan hal apapun, memiliki skill, cerdas,berkarakter elok, berpendidikan tinggi, punya mimpi dan mewujudkannya, tegar, intinya dapat hidup sendirian. Sesuatu yang saya tak pernah alami atau miliki dalam diri saya. Belum lagi di dunai seperti ini, saya merasa tidak memiliki tempat. semua orang menginginkan orang-orang, wanita yang dapat melakukan apapun sendirian. baik sebagai kenalan, teman, rekan kerja, pegawai, mentor, pasangan. Saya hampir tak dapat melakukan hal apa pun. Ketika merenung sendirian dan mendapati tak ada hal yang dapat saya kerjakan dengan baik, jujur saya sedikit merasa sedih. Meskipun kemampuan dapat di asah, namun, hati saya terlalu lembek untuk berjuang. sangat memalukan. satu-satunya hal yang dapat saya lakukan dengan baik adalah menjadi pecundang. Atau begitulah yang saya pikirkan selama ini. 

Namun, saya melupakan satu hal. Memang benar, sejak dulu saya tak memiliki hal baik atau istimewa dalam diri saya. Tetapi, saya selalu melakukan hal yang saya bisa. meskipun itu sangat kecil dan tak berarti bagi orang lain, setidaknya dulu  saya tak pernah membandingkan diri dengan siapa pun dan hanya melakukan hal yang bisa saya lakukan. Saya meninggalkan bagian diri itu, seorang yang tidak pernah membandingkan diri secara personal dengan orang lain hanya untuk merasa lebih buruk. saya tekankan secara personal, sebab, tentu saja hidup perlu perbandingan di beberapa sisi namun tidak di bagian lainnya. Skill dan kualitas, perlu dibandingkan bukan secara personal, tetapi secara objektif agar dapat lebih baik lagi. Sementara pribadi atau personal tidak perlu dibandingkan sebab setiap individu berbeda. 

Hal ini yang  belakangan sering saya lupakan. Hal yang dahulu seperti bernapas bagi saja. Hal yang tanpa saya sadari, membantu saya untuk terus berjalan dalam hidup, atas izin Allah. semuanya atas Izin Allah. Dan ... Alhamdulillah sekarang saya diberikan kesempatan kedua untuk kembali menyadarinya. Saya ingin merawatnya agar menjadi orang yang tetap layak untuk dititipi mindset ini. Semoga saja. 

Ah, racauan tak berstruktur lagi. Apa boleh buat. Sampai jumpa!


Sabtu, 11 April 2026

Poem: Dua Malam

Oleh: S. N. Aisyah 

Tiap kali kutatap langit 
Dedaunan seperti mendayu
Ditiup angin yang syahdu
Riuh di kejuahan memudar
Mewujud senyap
Ketenangan yang tak dapat
Kubeli di langit-langit mana saja

Lama sudah aku berbaring
Di puing-puing bawah tanah
Kamar pengap tempat mimpi
Jadi bangkai dan belulang
Berulang, 
Menyebar momok dan aroma busuk 
Mengaduk perut, memuakkan 

Mungkin saja kematian-kematian
Harapan hanyalah pelipur lara
Yang kerap diputar ulang pada gawai;
Sebuah pelarian dan pengkhianatan kecil
Dari raksasa yang menyuruk di bawah kolong-kolong yang ditemuinya;
Anak dari badai es dalam dada dan kobaran api di kepala
Siap menebas dan membakar 
belukar dan rambat "si dingin" 
Memecah cermin jadi beribu ingin

Telah lama aku berbaring 
Di ranjang reot yang tak dapat menjamu kantuk
Melahirkan rutuk yang selalu kukutuk
Ya. Aku mengutukmu, rutuk.
Menyiram tahi dengan air seni. 
"Kerja tak guna," begitulah kata guruku. 
Kesia-siaan telah susupi materi putih. 
Otakku jadi kotak-kotak
Serupa permainan balok di 
taman kanak-kanak;
Selalu saja kehilangan tabung
Memicu tangis yang dibendung

Kata Ibuku ...
Ah, sial. Aku sudah lupa apa kata ibu
Sedang Ayah sudah lama menyimpan suara
Mungkin itulah sebabnya segala bunyi
menjelma gaduh saja
Buah dari kesopanan anak durhaka

Lagi-lagi aku bertanya,
Jika saja kutengadahkan kepala,
Pantaskah kiranya kuhaturkan asa
berkawankan angkasa,
Menyapa bintang,
Biarpun nanti hanya dibalas sunyi--
Dan setangkai
mawar putih di atas peti? 


Kota Bertuah, 10 April 2026





















Senin, 02 Maret 2026

sekilas racauan

Hai. datang lagi. yang penting nulis aja dah. bisa sih tulis di jurnal. tapi pengen aja di sini. megapa ya, manusia selalu saja jatuh di perangkap yang sama? danbodohnya itu perangkap yang ia pasang sendiri. kayak 'lu bego tapi kok segitunya, sih?'.

ternyata manusia memang selemah itu. terlalu lemah untuk bisa bergantung pada diri sendiri. bayangkan, manusia lemah itu bergantung pada manusia lainnya, yang sama rapuhnya. maka, pada manusia, kita tidaklah saling bergantung tetapi saling mendukung. jangan pernah menggantungkan hidupmu pada manusia bahkan jika itu orang yang paling kamu percaya dan paling kamu cintai sekalipun. dan tidak pula pada diri sendiri. sebab manusia adalah makhluk yang amat rapuh, lemah, dan bodoh jika saja Tuhan tidak memberikan sedikit kekuatan dan pengetahuan padanya.

sebuah paradoks kehidupan, orang-orang kuat tidak mengatakan dirinya kuat, tidak menyombongkan diri, tidak pula jumawa atas kekuatannya. mereka tahu pasti bahwa mereka memiliki kelemahan dan dengannya mereka belajar, berlatih, serta menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. dengan menyadari bahwa mereka bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa  bukan pula harus menjadi sesuatu yang harus menguasai dunia, mereka melepaskan ketakutan dan kekhawatiran yang melemahkan dirinya. 

mungkin seperti itu. entahlah. ah, ngantuk sekali. sudah dulu. jangan lupa mampir lagi, ya. baca tulisan-tulisan remukmu ini. 

23.37
Senin, 02 Maret 2026

Sabtu, 21 Februari 2026

Homepage--homesick-home

Baru saja membaca beberapa tulisan yang bagus di substack. Tiba-tiba saja, sesuatu dalam diri saya terpanggil. sesuatu yang rasanya sudah lama sekali tertidur. mengingatkan saya mengapa dulu saya memilih jalan yang saya pilih. Mengingatkan saya mengapa saya jatuh cinta pada dunia baca dan tulis. 
mengingatkan betapa tulisan dan pikiran yang dalam dan tajam, tulisan yang sunyi namun lantang, tenang dan tegas menjadi rumah bagi pikiran dan hati saya. Alhamdulillah. Allah  mempertemukan saya dengan tulisan-tulisan  tersebut. 

Saya homesick! benar-benar homesick. Kilasan perasaan itu datang. saya pernah merasa bersemangat sebelumnya. betapa menyenangkannya. dan tulisan-tulisan yang saya baca di substack itu membuat saya mengingatnya. merindukannya. 

setelah sekian lama tenggelam dalam riuh dan gaduhnya sosial media, saya seperti menemukan satu sudut senyap untuk beristirahat. Oh, pengendalian diri. Ini sangat konyol. Dulu, ketika masih masa BBM dan ponsel internet dengan kemampuan yang  tidak secanggih sekarang, saya tidak tertarik sama sekali. ponsel berinternet yang saya gunakan ketika itu adalah lungsuran dari kakak. ketika hendak mengganti dengan yang baru, saya malah memilih keystone yang minim fitur. ketika sadar bahwa saya baru saja mengganti ponsel, kawan saya bertanya kenapa memilih hp jadul ini. saya jawab, saya tak tertarik menggunakan ponsel 'canggih' saat itu. sebab saya tahu bagaimana diri saya  dan merasa bahwa hal tersebut dapat mengganggu saja. saya katakan pada kawan sekelas itu bahwa saya tak ingin larut bermain game atau berinternet ria. si kawan hanya menatap heran pada saya. mungkin pilihan saya sangat konyol. Saat itu, saya tidak bergabung pada grup mana pun, tidak saling bertukar pesan ria, tidak mendapatkan informasi tambahan kecuali informasi primer yang dibutuhkan melalui fitur pesan singkat yang merupakan kanal informasi utama saat ngampus dulu. Menurut hemat saya, saya hanya membutuhkan informasi yang penting saja. mungkin sedikit terdengar bodoh, ingorant bahkan arogan. tetapi saat itu pikiran saya lebih jelas dan jauh dari bising-bisaing seperti saat ini. Saya dapat memilih secara sadar hidup saya dan mengenal diri serta mengetahui apa yang saya inginkan dalam hidup. saya juga tahu dengan pasti apa yang saya sukai dan tidak. saya tahu apa yang ingin saya konsumsi atau tidak. 

setelah fitur  ponsel pintar berkembang  amat pesat dan dapat menunjang untuk berbagai pekerjaan, pemilihan menggunakan alat ini menjadi lebih masuk akal. Namun, naasnya perangkap firtur hiburan terlihat lebih menggoda. Ya, ini hanyalah tentang kebijaksaan memilih dan menggunakan. dari kecanggihan dunia modren ini, kita bisa meraih manfaat yang banyak dalam waktu singkat. Namun, ternyata hal ini memberikan efek terburu-buru dalam kehidupan. Atau kewalahan banjir informasi yang tak dibutuhkan, bahkan juga  terpenrangkap dalam muslihat-muslihat yang tak kita sadari mengintai di susdut-sudut yang terlihat aman. 

saat ini begitu layar digelar dan digulir, kita langsung disodorkan informasi yang belum tentu kita butuhkan atau inginkan. Namun, dengan kemasan dan hook yang begitu menarik, tanpa sadar kita bertahan di sana. menyerap informasi tersebut. lalu berpindah pada informsi lainya dalam hitungan menit bahkan detik. Otak kita tak diberi waktu untuk memproses dan mengirim signal pada diri kita apakah hal ini benar kita perlukan atau tiak. Nanmun, informasi itu kadung terekam dalam pita otak, menjadi bising dan suara-suara yang menyelubungi pikiran kita (setidaknya sejauh informasi itu bertahan dalam ingatan)  yang tak jarang kita adopsi.

keberlimpahan stok informasi dengan kemudahan akses dapat menjadi bumerang yang menenggelamkan kita dalam lautan  'sampah' informasi. mempercayai bising yang sebenarnya bukan suara hati atau pikiran kita. tidak memproses dan mengendapkan masukan yang baru saja dilahap. 
lalu, kita tersesat, bingung, dan kehilangan diri sendiri. kita berinteraksi dengan banyak hal tetapi tak pernah benar-benar terhubung. mengenal banyak hal  dan orang namun tak pernah benar-benar mengenali diri sendiri. mengetahui banyak hal tetapi tidak memahami lebih dalam. kemudahan akses  dalam waktu singat ini lagi-lagi membuat kita hidup terengah-engah. selalu merasa tertinggal. selalu ingin lekas dalam segala hal. selalu terburu-buru hingga kewalahan. kita menciptakan kegelisahan dan kecemasan yang mungkin seharusnya tak ada dalam hidup kita. ini miris dan konyol di saat yang sama. 

tentu saja di masa  ini  bagi sebagian besar kita internet menjadi tak terhindarkan. tetapi terus-terus bersamanya membuat kita cenderung lupa dengan diri dan hidup kita sesungguhnya. ya, tidak serta merta demikian tetapi sangat rentan adanya. \

oh, homesick! dan beberapa scroll dapat saja menghancurkan perasaan ini. 

09.10
Sabtu, 21 Februari 2026

Selasa, 03 Februari 2026

Thought: Ini Bukan Jumat Tetapi Tak Mengapa

Welcome Februari!

Lucu sekali rasanya membuang banyak waktu hanya untuk terlarut dalam fluktuasi emosi. Bahkan Januari tidak dilewati dengan satu buku pun! Tidak apa-apa. Kita nggak sedang lomba dengan siapa-siapa. 

Mungkin, untuk ke depannya blog ini tidak bisa mengggunakan metode dari April hingga Oktober kemarin. Wah, Oktober tahun lalu adalah masa emasnya blog ini. Sangat produktif. congratulation. That's a proof that you can do that, God willing. Alhamdulillah. Terima kasih untuk semua yang telah menginspirasi di bulan Oktober. Terutama, terima kasih Oktober. 

Nah, bukankah Oktober adalah bukti bahwa yang kita butuhkan itu komitmen, disiplin, konsistensi, integritas, dan melepaskan perfeksionis yang tak masuk akal. Tentu saja lebih daripada itu semua, tidak mungkin mungkin tanpa pertolongan dan izin dari Yang Maha Kuasa. 

Ada banyak hal yang mesti dibereskan, oleh sebab itu, menulis di sini mungkin tak bisa seproduktif Oktober dan beberapa bulan sebelumnya. 

Sangat bersyukur atas segala hal. Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan dan beri jalan. Amin.

Sudah dulu! Jalan lupa mampir lagi buat baca ini, ya! 


06: 08 

Selasa, 03 Februari 2026

Sabtu, 31 Januari 2026

Tidak apa-apa. Tidak apa-apa sekarang untuk menjadi berantakan. Tidak apa-apa menjadi sesuatu yang penuh ketidaksempurnaan. Tidak apa-apa. Bahkan jika tak ada yang mengerti. Mungkin sekarang kau egois. Tidak apa-apa. Asal jangan menyakiti. Tidak apa-apa. Jangan lama-lama egoisnya. Tidak apa-apa. 

Selasa, 27 Januari 2026

Apa dan Mengapa

Perjalanan hidup ini begitu melelahkan. Tidak ingat kapan terakhir kali hidup terasa begitu menyenangkan dan menarik. Apakah ini proses dari menemukan jati diri sebenarnya atau kembali pada diri sendiri? 

Tiba-tiba saya teringat, dulu, saat masih kanak-kanak betapa selektifnya dalam banyak hal. Tidak mudah terpengaruh oleh orang lain. Tidak mengikuti arus tetapi bukan berarti selalu memilih jalan yang berbeda. Hanya memilih dan mengikuti hal yang sesuai dengan nilai dan pandangan. Tidak tertutup secara pikiran tetapi sangat tegas secara pendirian. Tidak takut menyuarakan pendapat tetapi sangat menyimpan perasaan dalam-dalam. Tidak mengambil hal-hal secara personal namun saat memberikan sesuatu selalu secara personal. Selalu tahu apa yang saya mau dan apa pendirian saya dalam memilih untuk melakukan atau tak melakukan sesuatu. Tahu apa yang saya suka dan tidak suka. Fokus pada solusi meski keadaan saat kacau dan sangat tertekan. 

Namun, bukan berarti benar secara keseluruhan, tentu saja saat masih kecil banyak juga hal-hal buruk yang tak patut lagi dibawa. Seperti kurang disiplin, keras kepala, kurang sabar, kadang meledak, dan bersikap dingin, berlebihan, bahkan keterlaluan. Hidup secara pilot. Keputusan sadar diambil saat terjadi kejadian tertentu. Ceroboh. Cemas berlebihan dalam beberapa hal. Secara berlebih-lebihan selalu takut menyakiti orang lain. Negatif thinking. Selalu memikirkan kemungkinan terburuk, amarah yang konstan, rendah diri, namun juga tak terlalu begitu emosional? Tidak dapat mengingat beberapa hal dengan baik tetapi bisa menyimpan beberapa hal dengan sangat lama. 

Most of the time, saat kecil hingga masa awal menjadi mahasiswa, saya tak terlalu ingat kejadian sehari-hari (seperti makan dan sebagainya) dan tidak menikmati obrolan basa-basi. Tidak terlalu dapat merasakan emosi positif seperti kebahagiaan dan keceriaan yang bertahan lama tetapi memiliki semangat dan ambisi yang disimpan rapat dalam diri. Berpikir positif dan realistis meskipun saya memiliki kecenderungan negatif thinking, insecure, dan selalu melihat kemungkinan terburuk. Memang saat itu raanya begitu mudah untuk fokus mencari solusi tetapi sangat tidak disiplin untuk dapat mengerti cara kerja dunia. Dengan kata lain naif. Sangat naif dan bodoh. 

Saya tak begitu pandai menelusuri diri secara personal di masa lalu. Jika ditanya bagaimana hidup saya di masa lalu, saya akan menjawabnya biasa saja, sangat datar. Saya bisa menceritakan apa yang terjadi tapi tak mengingat perasaan saya akan hal tersebut. Namun, di satu sisi, sayangnya di saat yang sama, tak banyak yang dapat saya ingat dan ceritakan. 
Anehnya, sekarang, jika saya melihat kembali ke masa lalu saya menyadari bahwa hidup saat itu menyenangkan. Anehnya itu terasa seperti hidup meskipun begitu datar. Anehnya saya tak bosan meskipun hidup saya dikatakan membosankan.

Sekarang, saya dapat merasakan banyak hal dan emosi. Hidup tak lagi terasa datar, namun saya sangat bosan. Hingga pada titik tak lagi menginginkannya. Ya, saya pernah berpikir begitu. Saya tak menyukai hal ini. Perasaan-perasaan ini. Meskipun sedari kecil saya dikatakan sebagai anak yang sensitif, namun, saya tak pernah merasa begitu. Saya tahu saya bukan hanya baper saat melakukan apapun ketika itu. Sekarang, sangat berbeda. Saya dapat merasakan banyak hal seperti hidup dan menggerogoti dari luar dan dalam dan ini sangat menggangu. Sangat menggangu. Saya menjadi sangat sadar dengan perasaan saya dan saya sangat membencinya. Hidup saya konstan, datar, namun perasaan saya seperti rollercoaster. Pikiran saya tak lagi berfungsi seperti dulu. 

Saya terkurung dalam loop pikiran dan sangat sulit fokus mencari solusi. Saya tak tahu apa yang saya sukai dan apa yang saya inginkan. Saya tak lagi mengenali diri sendiri. 

Bukankah menyenangkan rasanya saat kita tahu apa yang kita mau dan tahu siapa diri kita? 

Hilang dan tersesat adalah kata yang sangat tepat menggambarkan diri saya saat ini.  Apakah ini kemunduran atau tahap untuk menjadi diri yang baru? 

Kamis, 22 Januari 2026

Ya, Ahjuma!

Sekarang jam tiga pagi. Sudah lama sekali rasanya nggak nulis di blog. Sepertinya blog ini cuma sekadar diary. yah, tak ada juga yang membaca selain diri sendiri. Yeah, well.

I've been jumping around here and there just to find an answer of  what I wanna do. What I like and what's my dream. It's seems so irrelevant now to feel this way. I mean, I still wanna have it. Dreams. A vision to live a life that align and can help me to add some supplies and stores of good deed for my after life. But, eventually, it's not as easy as speaking. I don't know what is happening. Probably, I just get distracted. too distracted and detached from real life, the meaning of it and the purpose of what I live for. This endlessly of fatigue and feeling lost and the struggle to get it together. The clash between what's known to be right and what's be done. The Gap of it. It's so annoyyingly frustrated. 

Kemarin membaca bebebrapa tulisan di blog ini dan menemukan fakta betapa semua tulisan itu snagat mentah dan memiliki banyak kekurangan. Ya, pada akhirnya ini hanyalah tulisan-tuisan yang tak melalui proses penanakan. Hanyalah tulisan sekali jadi tanpa editing atau penegndapan untuk mendapatkan perspektif baru dlaam tahap editing. Hampir saja menyerah sepenuhnya denganmenulis, tetapi diingatkan oleh halaman buku NNL yang dipost oleh penulisnya sendiri beberapa hari lalu tentang menulis tak harus menjadi seorang ahli profesional di sana. Ya, menulis hanyalah menumpahkan isi kepala, menenangkan pikiran, merenung, dan proses untuk menemukan sebuah jawaban. 

Saat pikiran kacau balau seperti ini, meracau dalam tulisan tanpa pembaca adalah jalan yang tepat untuk menguraikannya. Bukankah begitu? Mungkin, keterasaingan yang dirasakan oleh para penulis kawakan di masa dahulu-lah yang membuat mereka berbicara dengan kertas dan pena. Menumpahkan pikiran yang takmemiliki telinga untuk mendengarnya, atau hati untuk menampungnya atau pikiran untuk memahaminya. Menulis. Menulis. Sekarang sudah sangat banyak orang yang menulis. Itu adalah hal yang baik. Setiap tulisan akan menemukan pembacanya, bahkan jika itu berarti diri penulis di masa mendatang. Seperti blog ini. Jangan lupa kembali lagi ke sini dan membaca tulisanmu, ya? Teruslah menulis, teruslah  kembali untuk membacanya. Kau selalu diterima di sini.

Sampai nanti.

Kamis, 22 Januari 2026

Kamis, 01 Januari 2026

 A Brand New Shit  Sheet

Udah ganti tahun aja. Banyak belajar dari tahun kemarin. Setidaknya 2025 nggak menjelma The Stranger dari Camus. It's kinda but it's not.  Dengan kata lain, 2025 mengizinkan kita duduk dengan berbagai macam perasaan yang mungkin belum dapat dimengerti-- dan meminta didengar. 

Pergantian tahun, kerap menjadi 'milestone' bagi manusia untuk memulai atau meraih sesuatu. Sebab itulah lahir bebagai macam resolusi tahunan. Di satu sisi, ini dapat dipahami. Sebab pergantian dan perguliran waktu berkaitan erat dengan keselarasan  hidup manusia dalam kelompok dan alam sekitarnya. Akan tetapi, di sisi lain, waktu berupa relativitas bagi setiap individu sehingga menjadikan pergantian tahun atau periode waktu tertentu sebagai milestone untuk memulai atau meraih sesuatu menjadi tak relevan dalam beberapa kondisi. Misalnya saja, untuk berubah menjadi baik. Kita tak perlu menunggu tahun depan untuk melakukan suatu perubahan. Tak perlu menunggu waktu tertentu untuk belajar dan memperbaiki diri. 

Begitu juga untuk mengubah, menambah, memperluas, dan memperdalam perspektif terhadap goals atau resolusi tahunan. Tak sedikit dari kita yang bersemangat untuk merumuskan berbagai macam resolusi tahunan dan  goals-goals tertentu yang ingin kita capai saat memasuki tahun yang baru. Semangat itu mungkin akan menyala di awal-awal, tetapi banyak juga yang kehilangan nyala apinya di tengah jalan Sehingga saat semua resolusi itu mandek, usaha dan semangat untuk mewujudkannya juga dibekukan. Kehilangan momentum dan semangat kerap membuat sebagian dari kita kehilangan fokus untuk mencapai milestone kita itu bahkan mengabaikannya sama sekali. Tak jarang resolusi tahunan hanya menjadi omong kosong tahunan lainnya.  

Itu semua dapat terjadi jika kita mengungkung pergerakan, perubahan, semangat kita dalam perspektif waktu tertentu. Seolah-olah jika kita melewatkan satu momentum, maka kita telah gagal sepenuhnya. Padahal, waktu sendiri bersifat relatif bagi setiap individu.  Seperti definisi kesuksesan dan keberhasilan hidup, tak ada batasan kaku mengenai periode waktu yang diharuskan untuk memenuhinya. Tak batasan kaku yang dapat mendefinisikan apa, siapa, bagaimana, mengapa, di mana, dan kapan sesuatu itu disebut sukses atau berhasil. 

Orang-orang mengatakan bahwa setiap hari adalah lembaran baru untuk dapat mencoba lagi. Bagaimana kalau kita katakan bahwa setiap kesadaran adalah lembar baru untuk kita dapat memulai lagi? Entah itu  dalam kurun tahun, minggu, hari, jam, bahkan detik sekalipun? Jadi, saat kita menyadari ada hal yang salah, ada sesuatu yang tak berjalan dengan baik, di saat itulah keputusan ada di tangan kita. Apakah kita akan mengungkung diri dalam perspektif kaku berputaran waktu atau kita dapat menjadikannya lembar baru untuk belajar, memperbaiki, dan memulai lagi. 


20:43
01 Januari 2026 

Selasa, 23 Desember 2025

Poem: Pulang

Oleh: S. N. Aisyah 

Jika bisa, nanti kita pulang
Kembali dalam rumah hangat
Dengan bolham kuning yang menyengat
Izinkan kembali kususuri 
Rambut abu yang kian menipis itu 

Salahkan saja aku yang tak pernah mengaku padamu
Juga menutup telpon terburu, 
padahal kau sedang rindu

Jika bisa, nanti kita pulang
Biar kuhidang kembali kudapan terakhir itu
Lebih matang, di rumah yang tak kurang tabung gas atau kayu bakar
Hingga tubuhmu tak lagi dingin, sebab mengunyah kenyang

Jika saja aku pulang,
Akankah kau menyambutku dengan senang
Ataukah air mataku yang akan berlinang? 

Selasa, 23 Desember 2025

Senin, 01 Desember 2025

Poem: Kali Ini Sumatra

Amboi, Sayang
Terlalu lama kita 
Dinina bobo lagu-lagu
para insan belagu

Di sepanjang Khatulistiwa 
Hutan, laut, tanah ,udara
Tempat dapur
Tempat tuah
Tempat marwah
Dibabat hingga punah

Tangan-tangan besi
Mengeruk bumi
Meneguk air mata
Jiwa-jiwa yang mesti dijaga

Amboi, Sayang
Langit bergemuruh 
Laut megaduh
Udara mengeruh
Angin bertiup rusuh

Hujan yang biasa menyapa 
Diselingi tawa dan canda
Kini berubah menjadi bah
Tanah tak dapat lagi menadah
Rumah-rumah luluh lantah 
Pepohonan larut tak tersanggah
Jiwa-jiwa direnggut jadi arwah
Yang ditinggal rapuh dalam derita
Tak dapat ditawar kata merdeka
Sedang pria-pria dan wanita-wanita 
Di selubung kuasa duduk 
Kepalanya menengadah
Tak hendak tepati sumpah
Mengelak telah teken 
tinta hulu derita
Tunjuk alam sebagai
Kawan yang berkhianat 
Tuduh Tuhan sebagai pembawa takdir
Yang tak bersahabat

Amboi, Sayang
Terlalu lama kita 
Dinina bobo lagu-lagu
para insan belagu
muak sudah kita
Tidur ayam dalam
Kandang dengan dendang
Kebohongan 

Sumatra, 01 Desember 2025





Mental Health

Berikut ini adalah gubahan dari catatan pada Seminar Mental Health di acara Festival Literasi Riau, 01 Oktober 2025 yang digelar oleh Perpus...